Gaya Kompas Mengobarkan Permusuhan

khabarislam.wordpress.com. KH Cholil Ridwan menilai Kompas memang menjadi alat Katholik atau missi zending. “Jadi apa-apa yang merugikan umat Islam pasti dimuat, termasuk tulisan yang menyerang MUI,” tegasnya.
Untuk kesekian kalinya Harian Kompas kembali memuat tulisan yang yang sangat tendensius tentang Majelis Ulama Indonesia (MUI). Tulisan tendensius tentang MUI ini dimuat di Kompas edisi Senin, 8 September 2008, halaman 44, di rubrik Bentara, melalui tulisan Sumanto Al Qurtuby dengan judul, “Mendesain Kembali Format Dialog Agama”
.
Sumanto menulis, “Menariknya, ma-sih menurut Rumadi, dalam peristiwa kekerasan berbasis agama ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mestinya berperan sebagai pengayom umat, dalam banyak hal justru sering menjadi aktor utama (prime mover) dan inspirator kekerasan.
MUI yang seharusnya menjadi pemersatu kelompok-kelompok keaga-maan yang terbelah justru menjadi ”polisi agama” yang ikut menggebuk kelompok-kelompok keagamaan yang divonis sesat dan menyimpang. MUI yang semestinya berfungsi sebagai penyejuk dan ”oase spiritual” bagi umat manusia apapun agama dan keyakinan mereka seperti dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW justru ikut menjadi pembakar amarah massa dan penyulut kebencian. Pula, MUI yang seharusnya menjadi wadah dialog agama yang terbuka justru menjadi sarang kelompok konservatif yang anti-dialog dan pluralisme. Apa yang menimpa MUI ini tentu menjadi sebuah ironi mengingat sebagai institusi agama yang ”dihidupi” dari uang rakyat melalui APBN, tidak sepantasnya jika MUI terlibat dalam kekerasan agama yang mengorbankan rakyat itu sendiri.”
Pemuatan tulisan yang menyerang MUI ini tentu bukan karena unsur ketidaksengajaan. Berkali-kali harian yang diterbitkan oleh kelompok Katholik ini melakukan hal serupa. Sikap tersebut tampaknya memang sudah menjadi ideologi Kompas selama ini.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Ridwan menilai Kompas memang menjadi alat Katholik atau missi zending. “Jadi apa-apa yang merugikan umat Islam pasti dimuat, termasuk tulisan yang menyerang MUI,” tegasnya kepada SI. Seharusnya jika harian itu menggunakan kaidah jurnalistik yang benar, ada klarifikasi terlebih dahulu dari pihak-pihak yang akan dirugikan dari tulisan tersebut.
Ia menjelaskan, kini banyak pihak menjadi kepanjangan tangan kepen-tingan Barat yang anti Islam. Mereka dibayar untuk melakukan itu. “Jadi kalau mereka tidak anti MUI, tidak menyerang MUI maka berarti mereka tidak melak-sanakan tugasnya. Mereka tidak akan dapat proyek baru lagi. Saya kira itu yang bisa kita pahami,” tuturnya.
Menanggapi tulisan Sumanto yang menuding MUI sebagai sumber keke-rasan, KH Cholil tidak bisa menerimanya. Ia kemudian mengilustrasikan rusuh musik di Bandung yang menewaskan 10 orang atau rusuh di Maluku Utara serta rusuh di berberbagai daerah yang tidak pernah dibicarakan. “Semata-mata mere-ka memang sudah antipati terhadap MUI. Dia orang Islam yang tidak pernah mau membela Islam. Tapi dia orang Islam yang menjadi kepanjangan kaki tangan Barat,” tegasnya seraya menjelaskan bahwa tidak ada hubungan antara fatwa MUI dengan kekerasan.
Jejak Kekurangajaran
Dalam kasus eksekusi mati Tibo dan kawan-kawan, misalnya. Kompas hampir seratus persen menjadi corong mereka yang menolak eksekusi mati tersebut, sebagaimana tercermin melalui berbagai opini yang dipublikasikannya.
Dalam pemberitaannya, Kompas hampir tidak pernah memberikan ruang bagi mereka yang pro eksekusi mati Tibo dkk. Padahal, sudah jelas Tibo dkk membunuh ratusan santri Ponpes Wali-songo, Poso, dengan tangannya sendiri. Dalam hal Tibo dkk hanyalah wayang yang dimainkan aktor intelektual, itu lain persoalan. Yang jelas secara pidana Tibo dkk memang terbukti membantai ratusan orang.
Keberpihakan terhadap mereka yang kontra eksekusi mati Tibo, menunjukkan bahwa sebagai media nasional Kompas tidak punya hati nurani. Harian itu bukan saja meng-abaikan amanat hati nurani rakyat yang menjadi mottonya, tetapi juga telah melukai rasa keadilan umat Islam
Contoh lain, dalam kasus pro-kontra RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP). Kompas jelas-jelas meng-ambil posisi kontra RUU-APP. Berbagai pemberitaan yang berkenaan dengan itu memperlihatkan dengan jelas bahwa harian itu diskriminatif. Opini yang ditampilkan juga berpihak. Misalnya, Kompas edisi 29 Maret 2006 menam-pilkan opini Siswono Yudhohusodho berjudul Negara dan Keberagaman Budaya. Siswono yang pada intinya menolak RUU APP karena meng-anggapnya salah satu produk hukum yang sangat beraroma Syari’at Islam. Menurut Siswono,
Majalah Risalah Mujahidin menilai argumen Siswono jelas terlihat dungu. Ia tidak saja mengabaikan konsep demok-rasi, tetapi mendorong munculnya tirani minoritas atas mayoritas. Bukankah Bali dan Papua minoritas? Melalui opininya itu, Siswono sengaja menekankan supaya umat Islam yang mayoritas bila hendak membuat aturan bagi umat Islam, harus terlebih dulu meminta persetujuan ma-syarakat Bali dan Papua. Bila mereka menolak, berarti aturan itu harus juga ditolak sebagai konsekuensi dari konsep unitarian (negara kesatuan). Sebaliknya, bila orang Papua mau berkoteka, atau bila umat Hindu Bali mau menjalankan ritual musyriknya serta memaksakan pene-rapan ’syariat’ Hindu kepada non Hindu di Bali, itu harus didukung dalam rangka melestarikan keluhuran budaya bangsa.
Logika seperti itu, dipublikasikan Kompas tentu bukan tanpa maksud. Tidak bisa disalahkan bila ada yang menafsirkan hal itu dilakukan Kompas dalam rangka memprovokasi umat Islam Patut juga dipertanyakan, apa kualifikasi yang dimiliki Siswono sehingga gagasan dan logikanya layak ditampilkan di harian tersebut dan dalam rangka mewakili kalangan siapa?
Ketika wacana Perda Syari’at menge-muka, Kompas lagi-lagi menempati posisi strategisnya, yaitu menolak! Koran ini selalu menggunakan orang Islam untuk menentang hal-hal berbau Islam. Dalam hal perda ini, lihat saja mereka menam-pilkan Eros Djarot. Pada Kompas edisi 12 Juni 2006, Eros Djarot melalui opininya berjudul “Saatnya Duduk Bersama”
menyimpulkan, perda bernuansa syari’at adalah bagian dari nafsu politik mem-bangun negara di dalam negara, dan Perda Syari’at adalah gambaran Indo-nesia yang amburadul. Perda Syari’at juga dinilai Eros sebagai “hukum lain” di luar hukum positif.
Padahal orang tahu, Eros Djarot bu-kan pakar hukum, sehingga tidak mengerti bahwa menyerap hukum Islam ke dalam hukum positif adalah meru-pakan salah satu kaidah terbentuknya hukum positif. Tentu aneh dan janggal bila hukum positif di tengah masyarakat yang mayoritas Islam bersumber dari hukum-hukum yang diterbitkan oleh kolonialis dan imperialis. Apalagi, hukum Islam sudah diberlakukan bagi masya-rakat Islam di kawasan Nusantara ini jauh sebelum kemerdekaan NKRI. Eros Djarot juga bukan pakar sejarah, sehingga ia tidak tahu bahwa orang Islam di Indo-nesia telah menerima dan menerapkan hukum Islam di dalam masyarakatnya secara menyeluruh, dan diperbolehkan pemerintah kolonial Belanda, jauh sebe-lum kemerdekaan. Fakta ini diungkapkan oleh pakar hukum bangsa Belanda, LWC Van Den Berg (1845-1927).
Sejak berkumandangnya wacana per-da syari’at dan RUU APP, Kompas telah menjadi corong propaganda gerakan anti syariat dan anti Arab. Padahal, Arab dalam konteks sebagai etnik, bahasa dan nilai budaya, sudah menjadi salah satu anasir yang membentuk bangsa dan budaya Indonesia, sebagaimana Cina dan Hindu.
Corong Sepilis
Harian Kompas kian terang menjadi corong kaum Sepilis (sekularis, pluralis, dan liberalis). Melalui media inilah kaum Sepilis mengaktualisasikan pemikirannya yang menyerang Islam dan kaum Mus-limin. Hanya saja, sebagai corong Sepilis, dalam prakteknya Kompas juga tidak konsisten, karena hanya mau menerima opini dari satu warna saja yaitu warna sepilis.
Paling sering Kompas mempub-likasikan opini dari Ulil, Sukidi, Nur-cholish, Dawam, Gus Dur dan sejenisnya. Tidak terlihat Kompas punya itikad baik mau menyodorkan warna yang berbeda dengan menampilkan penulis yang terbukti mampu mematahkan argumen nama-nama tadi.
Mungkin Kompas berpikir sedang memberikan kontribusi di dalam mencip-takan Indonesia yang damai dan santun dengan mempublikasikan tulisan (opini) yang disumbangkan kaum Sepilis. Patut diduga, diskresi itu justru membuat panas situasi. Jangan-jangan memang Kompas ini sedang memantikkan api yang bisa membakar situasi ketegangan horizontal di Indonesia.
Oktober 5, 2008 pada 5:25 pm
kompas kan komando pastur
Oktober 5, 2008 pada 5:45 pm
emang ngajak perang tuh dari dulu
Oktober 6, 2008 pada 4:27 am
Masa mayoritas minta izin minoritas, dimana2 negara yang mayoritas selalu begitu..lagian kita hargain dan ga ngerugiin minoritas. hal baik aja udah kebakaran jenggot! dimana suara keadilan mereka terhadap negara irak, afghanistan,palestine…pada diam aja khan liat ada pembunuhan masal oleh negara Amerika?
saya dukung KH Cholil Ridwan…jangan takut. kita umat Islam dianggap penjagal Minoritas, padahal tidak. aturan untuk bertindak sopan aja ditentang, kita tambah tahu yang mana kebenaran itu berada.
Oktober 6, 2008 pada 4:38 am
saya mendukung kompas 100% karena memang benar seperti yg diberitakan oleh kompas.. karena islam di indo kini sudah ternoda oleh kekerasan
Oktober 6, 2008 pada 5:05 am
Artikel seperti ini justru membodohi masyarkat Agama Islam sendiri. Sudah menjadi bukti bahwa pihak eksekutif badan Islam sudah meninggalkan basis berdialog untuk menyelesaikan masalah politik dan keagamaan. Mereka cenderung lebih bersolusi dalam adu gontok2an dan agresi massa.
Oktober 6, 2008 pada 6:34 am
Masyarakat beragama dan bertuhan di Indonesia telah mulai menemukan jati dirinya. Agama dan Tuhan adalah urusan pribadi dan bukan urusan umat. Urusan umat adalah urusan politik, sedangkan urusan dosa adalah urusan pribadi dimuka Tuhannya. Oleh karena itu jangan heran, biarpun sama hasilnya berbeda. Salut pada kompas dan smua orang berhak untuk berpendapat asal jangan membawa 2 umat
Oktober 6, 2008 pada 10:57 am
kalo tidak sepakat yaaaa buat media sendiri aja, gimana??
Oktober 6, 2008 pada 11:16 am
Ribut? Kalah? Iri sama koran orang? Ya bikin koran sendiri donk, besarkan, jadikan media terpercaya.. Jangan bisanya ngomel saja…
Oktober 6, 2008 pada 12:20 pm
Bukannya umat Islam juga punya corongnya sendiri di Republika?
Oktober 6, 2008 pada 4:23 pm
Tenang-tenang…, silahkan berpendapat…, yang penting hindarkan kekerasan.
Salam.
Oktober 6, 2008 pada 9:11 pm
Kompas OK, yg nga senang, yah jangan baca!!!
Gituh aja repot!
Oktober 7, 2008 pada 1:28 am
Sebenarnya perlu pikiran yang tenang, saya gak baca Kompas karena ingin ketenangan.
Oktober 7, 2008 pada 2:47 am
apakah sebuah media tak boleh menjadi corong? kalau tidak, lalu sebaiknya jadi apa?
Oktober 7, 2008 pada 3:44 am
Setuju mat, loe mang pinter. Terlalu banyak orang yang menganggap dirinya suci bisa membina orang atau menjadi kepala atas orang lain atau menjadi tuhan nya sendiri
Oktober 7, 2008 pada 4:15 am
[...] Ada sebuah tulisan menarik di blog ini. [...]
Oktober 7, 2008 pada 4:19 am
Haha… dunia maya emang lahan subur buat keluarin semua isi perut….. Ga pelru pake otak, yg penting bisa baca-tulis selesai.
Bukan jalannya buat adu argumen (apalagi pake marah2) di dunia maya spt ini. Telan aja apapun masukan orang, alau kita bertindak sesuai hati nurani (bukan Hanura lho!) krn pertanggung jawaban nanti akan dihadapkan sendiri2 di akhirat nanti…
Oktober 7, 2008 pada 4:34 am
Wah gmana ini ! pemikiran na sempit n picik amat. keliatan bgt sft arogan na.dgn menerapkan hukum islam d negara yg plural. mementingkn diri sendiri d atas kpentingan org laen. itukah ajaran islam ?
sepatutny sbg sesama umat manusia d muka bumi hrs slg toleransi, bkn na memaksakan kehendak secara sepihak.
sy ingin bertanya ap penggunaan kekerasan dlm konteks apapun islam itu halal ? cth : amrozi cs, FPI. apa mrk setelah mereka meninggal akan msk surga ? saya rasa membunuh n menyakiti org laen adalh d0sa yg besar. jika dgn cr jihad mk bs msk surga. apa jadi na dunia ini kelak. pembunuhan d mana2 akan terjadi. bls dendam akn terjadi
semoga ini dpt jd bhan renungan
salam hangat
Oktober 7, 2008 pada 4:48 am
menganalisa dulu….
/* no comment
Oktober 7, 2008 pada 5:01 am
jika dgn cr jihad mk bs msk surga. apa jadi na dunia ini kelak. pembunuhan d mana2 akan terjadi.
suprie [tanya] @bahlul tau arti jihad ???
Oktober 7, 2008 pada 5:34 am
@narakushutdown
kalo REPUBLIKA katanya REPUBLIK AGAMA y?……..:)
Oktober 7, 2008 pada 5:48 am
jikalau sesuatu gak ada hitam putihnya, sesuatu itu gak asyik, pasti ada yang pro dan pasti ada yang kontra, tinggal bagaimana aja kita menyikapinya…
Oktober 7, 2008 pada 6:01 am
“SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1429 H”. Taqaballaahu
minna wa minkum, wa shiamana wa shiamakum. Minal aidin wal faidzin,
Kullu’aamin wa antum bikhair… Ayo donk bermaaf-maafan
Oktober 7, 2008 pada 6:31 am
memuat apapun suatu media, mestinya ia bisa adil dan berimbang. Media bukan corong sebuah lembaga ataupun instansi, kelompok dan sebagainya, media itu independent, akan tetapi setiap media berhak untuk memiliki ciri, corak dan gaya tersendiri, makanya slogan setiap media berbeda. Jadi siapa yg belum bisa membedakan antara muatan yg independent dan independent dalam memuat? Mungkin ini adalah antara pembaca yg bingung dan media yg tendensius (?)
Isu islam selalu menjadi pemicu pendongkrak traffik pembaca, mungkin juga oplah, terutama isu-isu yg agak menyerong ke kiri (baca:radikal atau kontroversial). Hal ini wajar ketika sebuah kepercayaan memiliki penganut yg sedemikian militant dan fundamentalis serta fanatik. Hal yg sama bisa pembaca amati di media2 di US sono yg coba-coba menyinggung-nyinggung yahudi, maaf saya hanya membandingkan.
Dalam hal pemuatan-pemuatan yg konon cenderung mencorongi sebelah pihak sebuah institusi, kompas disebut sebagai komando pastur, dan republika disebut sebagai republik agama. Menurut hemat saya, kenapa tidak mereka berdua (komps & republika) menyandingkan dua muatan yg berlawanan dalam satu kolom, lalu membiarkan pembaca memilih opini terbaik bagi mereka?
Ah, tentu saja akan ada suara sumbang tentang ketidak jelasan ideologi dan prinsip sebuah media (atau apalah istilahnya), jadi kata ndorokakung, memang benar adanya bahwa jika tidak menjadi corong, media akan menjadi apalagi?
Dalam konteks negara yg bingung dengan sistem demokrasinya sendiri serta peran media yg tidak jelas mengedukasi dan membawa pemikiran-pemikiran yg solutif terhadap pembaca sebagai element dinamis bangsa, media hanyalah corong bagi kelompok tertentu, golongan tertentu bahkan agama tertentu.
Bagi saya; ndak suka, ya jangan mbeli, jangan mbaca. Kalo suka ya mbeli, mbaca dan masang iklan.. he..he.
BETUL..? *dgn gaya kiwil*
Oktober 7, 2008 pada 6:34 am
musuh islam ada dalam islam itu sendiri yaitu orang munafik waspadala waspadalah
Oktober 7, 2008 pada 6:38 am
Kita semua orang yang percaya Tuhan, kenapa sih kita mempersoalkan hal yang berkaitan dengan agama? Seolah-olah Tuhan tidak ada dan tak sanggup bertindak. Setiap orang boleh boleh kok mengungkapkan pendapatnya. Silahkan baca artikel saya di http://henrymea.wordpress.com/2008/09/29/kontroversi-agama-tidak-akan-pernah-berakhir/
Oktober 7, 2008 pada 6:38 am
@ orangiman; hati-hati dgn istilah munafik, jika salah bisa berbalik, waspadalah-waspadalah *dgn gaya bang napi*
Oktober 7, 2008 pada 6:40 am
@henrymea: halah, ujung2nya ngajak orang membaca blognya..
Oktober 7, 2008 pada 6:48 am
sepakat dengan masbadar,
harus siap dengan seribu maklum.. negara yang bingung, rakyat yang bingung, media yang bingung, presiden dan tetekbengeknya yang bingung!!
Oktober 7, 2008 pada 6:48 am
Setidaknya berkat blog ini bisa tahu bahwa kompas bukan media yang independen.
@Bahlul
Jihad itu dosa?
@Joe
Perbuatan satu orang pasti berpengaruh pada lingkungan sekitarnya, bila ada satu penumpang melubangi perahu maka penumpang yang lain wajib mencegah kalo gk mau ikut tenggelam.
@Theo
Tidak perlu jadi orang suci untuk menyadarkan orang lain, karena memang tidak ada orang yang suci.
Oktober 7, 2008 pada 6:50 am
untung ga keseringan baca kompas..adem adem..tapi harus dibutuhkan telaah mendalam dlm menyikapi sesuatu apalagi terhadap tulisan surat kabar
Oktober 7, 2008 pada 6:51 am
aku memang dari dulu ngaak suka sama Kompas.
1. Beritanya selalu memihak salah satu pihak
2. Beritanya selalu pro-Barat (contohnya: satu2nya koran yag paling detail membahas pemilu Amerika adalah Kompas. Mulai dari profil capres & cawapres, cara pemilihan, istilah2 yang digunakan “Tuesday super”-lah, dsb).
3. Saya rasa kalau baca Kompas seperti bukan koran Indonesia.
4. Kalau baca koran Kompas harus disertai bahan bacaan (koran lain): Koran Tempo, Republika, Warta Kota, dsb. Maksudnya agar berita yang kita terima lebih berimbang.
Oktober 7, 2008 pada 6:52 am
Penulis blog ini konsentrasi pada isu-isu Islam. Jadi pasti lebih sensitif terhadap semua yang memuat isu Islam. Kebetulan saja Kompas yang ‘ketangkap’ oleh si penulis, jadi langsung ‘digarap’. Menurut saya sih, malah Kompas kelakuannya “lebih islami’ ketimbang Republika yang terkenal sebagai corongnya muslim Indonesia.
Oktober 7, 2008 pada 7:02 am
kalo saya coba berfikir apa yang contohnya seperti FPI buat tu karena KETIDAKTEGASAN pemerintah dalam mengambil sikap….dan ketidakseriusan dalam menghadapi persoalan yang sensitif…..Conto….FPI ngacak2 CLub malem ato Warung miras…WHy????
karena pemerintah tutup mata dan tidak segera mengambil tindakan …malah mungkin ada yang membekingi???wallahu Allam…terlalu banyak formalitas, dan kekeluargaan kali yah
Sebagai umat muslim harus bisa BIJAK dalam menghadapi persoalan diatas…TIDAK HANYA MEMANDANG DARI SEGI KEKERASAN SAJA….TAPI BAYANGKAN BILA TIDAK ADA YANG BERTINDAK…AYO BERFIKIF
Oktober 7, 2008 pada 7:14 am
kesimpulannya cuma 1 kyknya. bagaimana caranya menjauhkan citra islam dari kekerasan yg selama ini sangat melekat di berita2 di media apa pun. biar beritanya berbalik menjadi islam yg sangat erat dengan perdamaian dan persaudaraan.
ga usah lah nyari siapa yg salah. semua orang di planet bumi jg udah pusing skrg ini.
setuju??
Oktober 7, 2008 pada 7:19 am
halah sirik banget, berita islaminya juga ada tutup mata ya? makanya usaha jangan bisa cuman sirik terus bikin teori konspirasi aja , bosen tau sama teori konspirasi , dewasa dikit napa ?? malu-malu in Islam aja kalo udah kalah andalannya itu2 lagi ganti dong sudah puluhan tahun temanya usang??
Oktober 7, 2008 pada 8:38 am
inna lillahi wa inna ilaihi rojiun
mediadi indonesia memang dikuasai kaum non muslim.
mari kita rebut corong komunikasi di indonesia seperti sabili, hidayatullah, republika, hilangkan kkepentingan golongan, dahulukan kepentingan islam.
Allahu Akbar
Oktober 7, 2008 pada 8:46 am
apa yang salah dengan menjadi corong dari suatu kubu? bukankah di sisi yang lain juga ada republika? marilah kita syukuri keberagaman ini…. terimalah opini yang berbeda dengan lapang dada.
Oktober 7, 2008 pada 8:55 am
sekarang saatnya umat islam saling bersatu, mari kita makmurkan media muslim. jangan mau di ‘cuci otak’ oleh media kafir..
Oktober 7, 2008 pada 8:57 am
Baru bangun tidur baca artikel ini, koq ada adu argumentasi ya?
Mari kita berpikir tenang, jangan saling gontok-gontokan ah. Soal Kompas, biarlah masyarakat yang menilai.
Wassalam
Oktober 7, 2008 pada 10:06 am
akh mas endy ………….saya masyarakat boleh kan menilai…………… sudah lama aku tinggalkan enggak membeli produk mereka…… dan bilang kepada masyarakat lain untuk begitu juga…………… semaksimal mungkin kalau massih ada yang lain……………
Oktober 7, 2008 pada 10:32 am
halah…ribut agama terus, ga pada capek?
Islam merasa bener, Kristen juga ngerasa bener…sama-sama percaya Tuhan Maha Kuasa kan?
jangan dikira Tuhan ga bisa nulis langsung dilangit kalo”Agama ini atau itu yang bener”….jadi apa perlunya diributkan?sama2 belum bakal ngerti mana yang bener sebelum mati kan?
Oktober 7, 2008 pada 11:01 am
Wehehehe… ngga dimana-mana, topik yang bawa2 agama pasti laris manis..
ko orang ga cape ya..? ane aja udah cape banget ama orang gontok2an..
http://readingdigest.wordpress.com
Oktober 7, 2008 pada 11:06 am
mas gitu aja repot. Ingat Muslim sangat mengedepankan keberagaman. Keberagaman sebagai sesuatu yang dikreasi oleh Allah SWT. Kompas melihat MUI dalam kacamata dan paradigma yang lain.
Oktober 7, 2008 pada 11:15 am
Setahu saya tidak ada yg namanya pemberitaan yg berimbang dari SEMUA media massa di INDONESIA maupun DUNIA (cetak, televisi, online) semua punya ‘hidden agenda’ masing-masing (Kompas dan Republika termasuk di dalamnya).
Bedanya hanya pada implementasinya: ada yang terang-terangan ada yang halus dan sembunyi-sembunyi.
Demikian juga pendakwah semua agama, masing-masing punya agenda sendiri-sendiri, bukan?
Bahkan tulisan ini dan komen saya pun pasti punya tujuan.
Jadi mengapa tidak kita nikmati saja bersama-sama ‘perbedaan’ dan ‘peperangan’ ini …
Oktober 7, 2008 pada 12:21 pm
Koran yang dipercaya pembaca akan bertahan lama. Demikian pula sebaliknya. Modal boleh besar, tapi kalo nggak dipercaya pembaca/publik, pasti koran terbesar dan terpercaya di Indonesia ini sudah mati. Buktinya? Saya katakan, apa pun bisa diperdebatkan. Silakan saja…. tapi tidak bertujuan untuk menyerang dan menimbulkan kekisruhan. Mungkin MUI juga perlu instrospeksi terhadap kinerjanya selama ini. Ini negara demokrasi, silakan membantah tulisan Kompas. Kan ada hak jawab. Kenapa nggak dipakai?
Oktober 7, 2008 pada 1:23 pm
dari dulu setau saya, setiap text selalu berpihak..
Tidak mungkin ada yang netral..
jadi tidak perlu kaget kalau ternyata kompas berpihak..
Oktober 7, 2008 pada 1:38 pm
Hahahaha…
mbok ya Republika yang jelas-jelas berpihak pada Islam bikin tulisan tandingan..
Saya pikir keberpihakan adalah sah. Dan biasanya keberpihakan menuju dan mengusung kaum minor.
Wajar khan?
Masak yang dominan meinta dibela juga..?
bukannya sudah bisa membela dirinya sendiri tanpa didukung sana-sini?
Oktober 7, 2008 pada 1:58 pm
kita sebagai masyarakat aja bisa menilai sebuah tulisan itu bermuatan atau tidak…
kalo bermuatan yah… ditinggalin aja kalo emang ngak sesuai dengan kenyataan
Oktober 7, 2008 pada 3:57 pm
bila suatu tulisan dibolehkan memihak atau sebagai corong suatu pihak,
saya optimis masyarakat sekarang udah pd tau n bisa ngrasain tulisan mana2 yg berusahan berimbang, adil dan arif, serta mana2 yg bermuatan mengobarkan permusuhan
kalo bermuatan mengorbankan permusuhan ya nggak usah dibaca lah, cuman bikin kesel, dengki, sirik hati kita ajah. ujung2nya malah nambah dosa khan?!
Oktober 7, 2008 pada 4:43 pm
Keberpihakan memang sah karena memang sulit untuk tidak berpihak. Selalu ada saat dimana kita harus berpihak ke A dan tidak berpihak B. Di lain waktu, mungkin kita berpihak ke B dan tidak berpihak ke A. Dalam blog saya pun ada banyak keberpihakan. Contohnya, saya mendukung Amrozi Cs yang menginginkan hukum mati dengan cara dipancung dan bukan ditembak. Ya, itu contoh saja. Silahkan mampir. Terima kasih.
Oktober 7, 2008 pada 5:42 pm
Apapun itu kompas adlah media informasi yg terpercaya sampai saat ini,kompas sdah brjasa mlayani indonesia dgn mnyajikan info2 akurat terkini,mari kita mndukung kompas utk trus maju bkan untuk dijelekkan,klo ada kritik silahkan kirimkan kritik kalain jgn suka mnghakimi ataupun mnjelekkan,brpkir psitif jgn mdah trmakan provokasi
Oktober 7, 2008 pada 8:41 pm
wah…seru sekali..
Inilah yg disebut keberagaman oleh Tuhan (iya kan..)
Suatu yg normal kl ada yg pro dan kontra terhadap hal apapun itu, terlepas dari benarsalah.
Saya yakin ketentuan Tuhan sedang berlangsung sekarang…
Wallahu allam
Oktober 7, 2008 pada 11:26 pm
ya kalo media disebut sebagai corong (yg pertama kali bilang disini buakan saya lho)
berarti republika sebagai corong Muslim dan kompas sebagai congor kafir… gitu?
Oktober 7, 2008 pada 11:34 pm
Ada yg protes Islam diserang kompas. Ga usah bw2 kaum Nasrani donk yg nuliskan orang Islam jg. Di Quran aja ada tertulis orang Nasrani dan Yahudi dibilang ‘kafir’ dan ‘berbahaya’ karena ‘menyesatkan’.Klo yg ini gmana?? Bukannya mo nambahin ‘voltase’ yg udah tinggi nih cuman mari intropeksi diri masing2 aja yg Muslim perbanyak sholat ma berdzikir deh, yg Nasrani sering beribadah ke geraja, ikut misa, jangan lupa saat teduh tiap pagi, bis itu dengerin lagu saint loco yg kedamaian biar makin PEACE dunia kita.
Oktober 8, 2008 pada 1:27 am
kalo ditanggapi positip ya hasilnya positip, kalo ditanggapi negatip ya hasilnya negatip…. jangan memperkeruh ah…
Oktober 8, 2008 pada 3:25 am
TERLALU !!! * pake gaya ROMA IRAMA *
Kalo tidak bs menerima 0pini ato tulisan, silahkan kirimkan sanggahan ke redaksi kami.
kalo menurut anda k0ran kami tidak bermutu. t0l0ng jgn di baca
GITU AJA KOK REP0T *gaya GUSDUR*
Oktober 8, 2008 pada 4:04 am
namanya saja OBJEKTIFITAS YANG SUBJRKTIF ….
Oktober 8, 2008 pada 4:38 am
bapak-bapak dan ibu-ibu semua..
semua media itu punya ideologi dna ideologi inilah yang menjadi ciri khasnya mulai dari gaya tulisan, gaya pemberitaan dsb dan bisa dipastikan media saat ini menjadi corong kepentingan golongan tertentu…jadi pembacalah yang harus cerdas menilai dan menyaring informasi dari media.
Mari bersama ciptakan perdamaian dunia
Oktober 8, 2008 pada 4:50 am
Kalo ga mau perbedaan, ya udah tinggal aja di hutan sono or tinggal disatu pulau dan bikin koloni ndiri, koran ndiri khusus untuk islam….lah bahasanya pake corong2 barat segala…. emang yang kita pake buat nulis blog ini emang buatan MUI? mobil, motor, telepon dan segala fasilitas yang membuat kita pintar sampe saat ini emang buatan MUI juga, Orang2 pinter diMUI apa mereka lulusan Universitas MUI Indonesia? Bos kalo mo nulis ngaca dulu ya… ga usalah agama dan perbedaan diangkat2, udah usang dari taon bahuela. CPD
PEACE
Oktober 8, 2008 pada 6:23 am
Kompas justru media cetak yang paling bagus di indonesia.Coba bandingkan dengan republika, maaf kalah jauh.Berita terkait diatas justru murni dan benar apa adanya.Maaf ya, MUI skrg memang telah disususpi oleh golongan garis keras islam. Dan sepertinya Cholil Ridwan saalah satu yang tersusupi.Tidak semua orang MUI seperti itu, ada beberapa ya tergolong pluralis.
Oktober 8, 2008 pada 6:35 am
[...] banyak yang mirip-mirip yah. Nggak percaya? Nih saya kasi satu contoh:Ini komentar-komentar di LBIni komentar-komentar di website aslinyaNotice the difference?Komentar-komentar di LB ada banyak, tapi seperti ditulis oleh beberapa orang [...]
Oktober 8, 2008 pada 7:40 am
tidak ada yang paling nikmat, selain melakukan yang kita yakini…tidak ada yang paling bijak, selain menghormati keyakinan orang lain…tidak ada yang paling sempurna, kecuali Allah SWT, Sang Penguasa Langit dan Bumi….Kompas jadi corong kaum nasrani?tidak masalah…Republika jadi corong umat muslim ya juga tidak masalah…Gusdur berkata2 ngawur, juga tidak masalah…MUI juga sembrono, ya tidak masalah…FPI itu preman berjubah?tidak masalah kok…Mari kita saling hormati…siapa yang tidak tau KOMPAS…siapa juga yang tidak tau REPUBLIKA…kok kaget ngliat tingkah Gusdur, jangan heran2 gitu dong dengan MUI…santai men…jangan cemas dengan zending…jangan apriori dengan Islam…Anda seorang muslim?ayo tingkatkah ukhuwah islamiyah, bareng2 entaskan kemiskinan dan keterbelakangan umat Islam..anda seorang kristen?lakukan saja apa yang Anda yakini…mau mengkristenkan orang muslim…hahaha..ya kalo memang itu kewajiban yang Anda yakini, silakan saja…umat Muslim memang mayoritas di negeri ini…terus kenapa?kristen, katholik, hindu, budha dan lainnya minoritas?ada masalah apa dengan ini?piss aja deh…hukum di Indonesia harus hukum Islam?..sebagai seorang muslim saya jelas mendukung…karena hukum Islam insya Allah rahmatallil’alamin (akan mengayomi semua elemen bangsa)….kalo emang suatu saat di parlemen disahkan ya harus didukung…(kalo lo..). Klo ndak bisa, ya Insya Allah Islam di negeri ini masih tegak berdiri (tentunya dengan kekuatan iman umat Islam sendiri, disamping Kekuatan Sang Maha Dahsyat Allah Azza Wa Jalla)..buat yang nulis blog, saya salut dengan idenya menulis tema ini, piss aja deh…buat temen2 non muslim, maaf…tulisan ini adalah salah satu dari sekian banyak macam gaya berpendapat di dalam Islam, piss juga deh…buat Kompas, semoga semakin menyuarakan hati nurani rakyat…buat Republika semoga semakin mencerdaskan kehidupan bangsa, buat MUI semoga benar-benar menjadi ulama yang mengayomi dan menjadi panutan ummat, buat Gusdur, semoga diberi kesehatan, buat penulis, plis dong bikin khabar Islam yang lebih cerdas lagi…buat kita semua..piss men..!!!
Oktober 8, 2008 pada 8:47 am
waaah… koran kompas, http://www.kompas.com , tabloid2 olahraga berbasis kompas kayak BOlA, SOCCER, Kompas Gramedia Group, dkk. bakal tecoreng nih namanya…
Oktober 8, 2008 pada 11:20 am
pilihlah koran yang sesuai dengan selera anda.
Oktober 8, 2008 pada 12:28 pm
assalamu alaikum
tolong ikuti gerakan saya
ambil es batu 10 biji masukkan dalam bak
lalu kita nyemplung,basahi semua tubuh kita
okeeeeehhhhhhhhhhhhhhhhhhhh
biar adem
seger pikiran bener
kalo g berhasil
ambil air wudhu
lalu sholat jangan lupa dzikir
mohon petunjuk
nabi muhammad memerintahkan kita untuk selalu sabar
okeeee dipun cobi
Oktober 8, 2008 pada 12:45 pm
Sebagai umat Islam seharusnya kita malu dengan julukan negara dengan penduduk beragama Islam terbesar tapi juga terkenal dengan negara paling byk koruptornya.
karena itu saya mengajak semua umat Islam agar berjihad melawan KORUPTOR dan agar MUI mengeluarkan FATWA MATI terhadap KORUPTOR atau bahwa KORUPSI sama dengan MURTAD.
Oktober 8, 2008 pada 12:57 pm
kompas sudah di cuekin kok, bagi gue kompas adalah koran pembungkus martabak.
Oktober 8, 2008 pada 1:23 pm
lho, ini yang namanya sense of democracy, suka atau tidak, setuju atau tidak harus diterima. tergantung kita memilah nya bagai mana.
lagi pula mui bukanlah lembaga hukum yang memiliki kekuatan hukum. cuma sekedar lembaga yang “memberikan label halal” agar sebuah produk laris dipasaran. lain tidak
so bi wise lah!
Oktober 8, 2008 pada 1:31 pm
welehhh komentarnya ZAKY EL PASHA………..KERENNN !!!……….
Oktober 8, 2008 pada 1:37 pm
Buat apa sich saling tuding,paling-paling buat cari sensasi sesaat aja tuch.Apa sudah tidak ada lagi etika dalam memeluk suatu Agama?
Oktober 8, 2008 pada 2:17 pm
MUI memang perlu introspeksi diri. Karena selama ini sudah kurang beres menurut saya. Mereka menyesatkan Ahmadiah, mungkin mereka benar. Tapi Lia Eden? Dia ngaku muslim saja tidak kok memfatwa sesat. Apa urusan nya? Trus kekerasan mengatasnamakan agama kok tidak difatwa sesat?
Btw MUI itu apa ya? Ormas bukan, Partai bukan, Lembaga pemerintah juga sepertinya bukan. Jadi bingung…
Oktober 8, 2008 pada 2:19 pm
*memfatwa = difatwa, maaf soal typo nya. terlalu bersemangat
Oktober 8, 2008 pada 2:35 pm
Ora mutu blognya… Terlalu fanatik penulisnya, Tuh liat MUI secara jelas! kyk preman.
Oktober 8, 2008 pada 2:35 pm
saya mau eramuslim,sabili yang sangat provokatif mengobar permusuhan dan perpecahan bangsa agar jangan membela FPI dkk. Gimana bisa gak ?
bung, kompas bisa bertahan lama hingga sekarang itu karena masyarakat yang menilai mereka. pembaca kompas itu berasal dari berbagai kalangan, mulai dari presiden hingga masyarakat kecil, dan tentunya banyak juga pembaca kompas yang lebih mengetahui Islam daripada anda.
jadi jangan sok mendikte , jangan jadi orang SOK, orang congkak..
salam hangat deh
Oktober 8, 2008 pada 3:04 pm
Terlalu berlebihan menilai, terlalu berprasangka buruk. Coba liha diri sendiri. Terima kritik lau perbaiki diri. Jangan malah berpikiran kerdil. Malu ah.. Islam agama besar masak hal seperti ini jadi masalah… pake otak jangan pake otot.
Oktober 8, 2008 pada 4:07 pm
Klo minurut aku seh KOMPAS itu harian yang netral dan isinya bagus banget!!!
Oktober 8, 2008 pada 5:05 pm
kasih itu baik, ia T I D A K C E M B U R U
Oktober 8, 2008 pada 6:36 pm
kalo ga mau berantem tentang agama baca j majalah pulsa, disana ga tuh ngebahas tentang satu agama pun, cuma handphone ma teknologi terbaru, semua agama mengajurakan kita untuk maju kan?
kalo yang sering baca lampu merah boleh komentar ga?
Oktober 8, 2008 pada 7:15 pm
Hehehe, coba kalau kadang-kadang anda mampir ke beberapa forum internet, sering ada kejadian di mana penggemar fanatik suatu merk ponsel tertentu menjelek-jelekkan merk ponsel lain. Atau pengguna provider tertentu menjelek-jelekkan provider saingannya.
Favoritisme kayaknya sudah menjadi kodrat tak sadar dari manusia. Kita niscaya akan selalu meributkan perbedaan, dengan atau tanpa agama.
Oktober 9, 2008 pada 2:21 am
Hati-hati kompas psywar….
Oktober 9, 2008 pada 8:33 am
Happy birthday to me, happy birthday to me.
Happy birthday, happy birthday. Happy birthday to me.
Oktober 9, 2008 pada 9:03 am
Peace is not the product of terror or fear.
Peace is not the silence of cemeteries.
Peace is not the silent revolt of violent repression.
Peace is the generous, tranquil contribution
of all to the good of all.
Peace is dynamism. Peace is generosity.
It is right and it is duty.
– Bishop Oscar Romero
True devotion is for itself: not to desire heaven, nor to fear hell.
- Rabi’a al-’Adawiyya
Peace, in the sense of the absence of war, is of little value to someone who is dying of hunger or cold. It will not remove the pain of torture inflicted on a prisoner of conscience. It does not comfort those who have lost their loved ones in floods caused by senseless deforestation in a neighboring country. Peace can only last where human rights are respected, where people are fed, and where individuals and nations are free.
– XIVth Dalai Lama
If we have no peace, it is because we have forgotten that we belong to each other.
– Mother Theresa
The less justified a man is in claiming excellence for his own self, the more ready is he to claim all excellence for his nation, his religion, his race or his holy cause.
– Eric Hoffer
Better to look at the defects hidden within you, than to look for the unseen worlds that are veiled from you.
– Shaykh Ibn Ata’illah
We must learn to live together as brothers, or perish together as fools.
– Martin Luther King, Jr.
When people have despaired of reaping a harvest, God sends down rain. He spreads his blessing across the world; he is the glorious guardian. Look at how he created the heavens and the earth, and all the creatures that he has spread across the earth. The creation is merely one among many of his signs. If he wanted, he could gather the heavens and the earth and all the creatures into one place.
– Qur’an, Surah Ash-Shura [42:27-29]
Oktober 9, 2008 pada 10:06 am
Terlepas dari pro dan kontra tulisan diatas, aku pikir semua yang diungkap dalam artikel diatas adalah BENAR..!!!
Juga sesuatu yang benar jika Republika menjadi terkesan leaning/condong pada kelompok tertentu.
Saudara-saudara, kristenisasi dan khatolikisasi itu NYATA. seperti halnya juga Islamisasi yang juga Nyata.
Wacana yang dikembangkan kompas memang wacana pluralis dan Liberal, ini tidak bisa dipungkiri.
Setiap media yang terbit didunia ini sengaja hadir bukan tanpa maksud. setiap mereka punya visi dan misi. mereka adalah kumpulan misionaris yang berharap dengan media itu bisa mewujudkan cita-citanya.
Lihat, bagaimana metro TV, Media Indonesia, dan Groupnya selalu menyanjung Surya Paloh dan Rizal Mallarangeng.
Lihat bagaimana TVRI selalu menjadi backup kebijakan pemerintah, sampai detik ini.
Semua kita kembalikan kepada hati nurani, mungkin diantara kita ada yang sok-sokan PLURALIS dan LIBERAL padahal kita sakit hati dengan agama yang dilecehkan,
Atau, diantara kita ada yang sok membela agama padahal sholat aja bolong-bolong… (Ingat, bagi Islam sholat adalah tiang agama, bagi yang meninggalkan berarti merobohkan agama…)
Terimakasih,
Agung
Oktober 9, 2008 pada 10:47 am
@ agungwasono
Keren, bos. Jadi orang gila udah berapa lama?
Oktober 9, 2008 pada 11:10 am
Oya, numpang tanya. Buat penulis dan orang-orang gila lainnya.
Tarif jurnalistik propaganda buat freelancer pasarannya berapa sekarang? Lumayan buat yang nyari job gitu, bos. Kebetulan saya juga sedang mencari freelancer propaganda buat sekte baru bikinan saya. Namanya maknyosisme.
Target pasar, biasa lah, kelas pekerja. Kalau bisa orang daerah. Yang masih keplintat keplintut dengan ibukota, rawan ketidakseimbangan psikologis, biar gampang dimaknyosi. Don’t worry, be happy. Selagi masih ada ketidakseimbangan hak ekonomi dan intelektual yang signifikan, segmen pasar pasti meluas dengan sendirinya. Freelancer tugasnya sekedar memilih kata-kata sesuai yang mengena di alam bawah sadar target, edit foto dengan elementasi-elementasi tertentu, juga harus pintar memutarbalikkan fakta, selebihnya meneruskan publikasi dari referensi-referensi terpercaya kita.
Soal fee nanti bisa dinegosiasikan, kita lihat pasarannya saja dulu. Dan juga riwayat hidup si freelancer, sesuai kriteria atau tidak.
Mohon informasi lebih lanjut.
Terimakasih, permisi..
Oktober 9, 2008 pada 11:37 am
d00d, that was uncalled for!
Btw, hubungi grup femina atau MRA Media gih kalo mau jadi propagandis yang kayak begitu
Oktober 9, 2008 pada 12:43 pm
kata iklan operator hape, mulutmu harimaumu.
nha. cukuplah dari komentar kita tahu stereotip yang bersangkutan
Oktober 9, 2008 pada 1:02 pm
Kenapa memang, mas Catshade? Salah?
Woh iya, mungkin cuma setres sikit ya. Okeh, I take it back.
Kompas mengobarkan permusuhan, dan sekarang Femina Group dan MRA Media sudah jadi sarang propagandis juga!?
Hebats. Khilafah sudah dekats. Tinggal belok kiri lurus terus nyampe.
No, mister, maknyosisme tidak menargetkan perempuan. Apalagi perempuan cerdas. Nanti strategi kita ketauan.
Maluuuuuu dooonq ah kalo ketahuan.
Oktober 9, 2008 pada 1:03 pm
@ idiotz
And your username is idiotz.
Oktober 9, 2008 pada 1:58 pm
Ah, udah sepi. Ga seru lagi.
Mana orang-orang setres lainnya. Hayo, keluar semua.
@ narakushutdown
Nah lo komando sape, komando taliban mujahidin?
Bangga lo?
Gila-o-meter: Banget.
@ Mujahid
Halah, tau apa sih mas tentang perang. Paling tiap malem berdarah lantaran digigit nyamuk. Gih sono ke Apganistan lu, perang beneran. Indonesia kepingin damai.
@ wahyunugraha
Malah minoritas yang takut ma lo, dudul. Orang lo sendiri aja takut ma lo.
@ miftahulmunir
Nahlo, terus situ siapa jadi harus bertanggungjawab menyadarkan orang lain sesuai realita situ? Situ dah naik pangkat jadi Tuhan? Hebats.
@ pujo
Ndoblos. Masyarakat Indonesia itu seharusnya bersikap seperti bagian dari masyarakat internasional. Caranya bagaimana? Salah satunya dengan memahami benar kebijakan-kebijakan yang terpolarisasi disana. Memberitakan berita dari Barat, tidak berarti pro-Barat. Kompas juga memuat kritikan terhadap Barat, sama seperti Barat mengkritisi kebijakan-kebijakannya sendiri. Situ bisa ga begitu? Apa lebih baik orang Indonesia semuanya tinggal di goa? Seperti si mas Bin Laden noh?
Supaya berita yang situ terima lebih berimbang, sebelum baca koran, belajar tulis-baca sampai benar dulu deh ya.
@ zaky el pasha
Oktober 9, 2008 pada 2:04 pm
Ups, koreksi.
@ zaky el pasha
Beuh, yang ada orang Kristen malu kali punya jemaat kayak beginian. Kristenisasi itu caranya bagaimana sih, mas? Jelasin doms, biar yang lain pada ngerti. Kalo saya taunya: maknyosisasi. Hidup maknyos!
@ kuncibahagia
Bikin serem gue aja lo. Abis ngomong ituh, pasti lo maen petasan deh.
@ kitong
Orang-orang kayak lo bikin negara sendiri aje, napa sih. Pasti lo pikir kalo di negara lo sendiri, lo jadi orang kaya kan? Nah, ya udah. Kenapa harus Indonesiaku tercinta yang lo ubek-ubek? Higs.
Merdeka! Hidup maknyos!
PS: Sori nyampah. Tapi media propaganda ini, disampahin juga udah busuk duluan. Benar bukan begitu? *ngelirik yang punya blog
Oktober 9, 2008 pada 4:35 pm
@marisa:
Buset, sekarang malah anda yang kelihatan seperti kesetanan. And speaking of the devil…
*mencoba jadi
devilgod’s advocate*Berdasarkan biografinya P.K. Ojong (Cina, Katolik, salah satu pendiri Kompas selain Jakob Oetama dan Frans Seda yang juga sama-sama Katolik) yang saya punya, Kompas memang pertama kali dibentuk atas saran ABRI(!) untuk melawan sebuah kekuatan yang saat itu sedang mencengkeram Indonesia (coba tebak
). Berikut saya kutipkan tulisan Frans Seda sendiri…
Jadi kalau dibilang Kompas dilahirkan oleh orang-orang dari persatuan agama tertentu (I. J. Kasimo, ketua Partai Katolik, juga jadi ketua yayasan yang membidani Kompas) dan dengan maksud politik yang kental, itu tidak sepenuhnya salah. Tapi kalo dikatakan sasarannya adalah Islam, itu baru ngaco namanya
Oh, dan awalnya harian itu mau diberi nama “Bentara Rakyat”, tapi Soekarno-lah yang memintanya diganti dengan nama “Kompas”. Karena itu ‘pemberi arah dan jalan dalam mengarungi lautan atau hutan rimba’. Tidak ada disebut-sebut soal ‘komando pastur’.
Sumber saya:
Ishwara, H. PK Ojong: Hidup Sederhana, Berpikir Mulia (2001). Jakarta: Kompas.
Oktober 9, 2008 pada 9:42 pm
Oh. Jadi kalau penganut maknyosisme bersuara, dibilang kesetanan. Kalau mayoritas, dibilang perjuangan? Jangan diskriminatif begitu, apakah tidak boleh saya beradaptasi dengan lingkungan sekitar?
Tega kalian itu sebenarnya. Manusia sudah dipermainkan jadi pion ideologi. Mungkin yang mereka pikirkan hanyalah hal naluriah yang mendasar, sebagai manusia. Dan itu semua kalian proses jadi senjata propaganda semata.
Terimakasih atas referensinya, btw. PKI itu ..komunisme, bukan?
Very interesting. Semoga suatu saat bisa saya maknyosi penganutnya.
Salam maknyos!
Oktober 9, 2008 pada 11:01 pm
duh… pengen komentar, tapi dah keburu miris duluan… baik ngebaca artikelnya, maupun ngebaca komentar-komentarnya.
Oktober 10, 2008 pada 7:20 am
kita harus sadar bahwa negara ini adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang didalamnya terdapat banyak keragaman yang harus dihargai.
tidak ada yang namanyan Mayoritas ato Minoritas..
hanya orang2 keras kepala dan sombong yang begitu bangganya dengan menyebut dirinya sebagai kaum mayoritas. bukan dengan kuat kita menjadi mayoritas, tapi dengan kasih dan saling menghargai itulah kita bisa disebut sebagai kaum mayoritas.
Kompas ini adalah media yang terpercaya dan mempunyai ijin yang sah untuk menyuarakan kondisi yang ada sekarang.
kenapa harus dimusuhi?
kenapa harus di banned??
ya begitulah orang Indonesia yang mayoritas masi belum bisa dan belum mau menerima keadaan bahwa negara ini majemuk.
tidak ada agama mayoritas dan agama minoritas!!
hanya orang2 yang tidak mengerti agama yang dengan senang hati menggolongkan agama (bahkan apa pun juga) menjadi golongan mayoritas dan minoritas.
agama itu ada untuk kasih..
salam.
Oktober 10, 2008 pada 2:08 pm
oalah kok ya ga selesai2 ya…
ini kalo dipanjangin ga bakal ada ujungnya.
kalauj saya sih maklum saja dengan tulisan ini….
jadi :
harap maklum….
Oktober 11, 2008 pada 1:30 pm
Agama, sebuah bahasan yang tentunya memang tidak diharapkan untuk selesai. Tatkala pihak dan pihak adu mulut, maka akan menjadi suatu tontonan yang menarik ! Apakah pemilik blog ini sadar atau tidak, saya tidak tahu. Tetapi dia telah berhasil membuat saya membaca tulisan di atas sambil tertawa – tawa.
..Mungkin ditambah dengan perdebatan diatas. Seperti contohnya antara Mbak Marisa dan Tuan Catshade. Apa yang kalian balas disitu mungkin saja menjadi hiburan bagi orang lainnya…Khususnya saya.
Apakah agama merupakan dagelan masa kini ?
*O.O.T*
*Nyalakan Kompor*
—-
Wong edan, jadi corong saja dilarang…Padahal jelas – jelas masih banyak yang memakai corong Islam di medianya…
Oktober 12, 2008 pada 5:23 am
Survey membuktikan, mana yang lebih menguasai pasar, Kompas, Republika atau Sabili?
)
Kebanyakan bacot. Se-qualified apa sih orang2 MUI? paling lulusan mana. Korupsi juga terbukti paling besar di Departemen Agama.
Oktober 12, 2008 pada 1:07 pm
@ marisa :
Buset dah, semua kena tembak.
Oktober 15, 2008 pada 5:36 pm
Kalau tulisan Sumanto di Kompas itu memang tidak benar, mengapa ya penulis blog ini tidak menjelaskan bantahan tentang berita tersebut? Justru kok Kompas yang disalahkan. Kalau kompas itu media kafir, mengapa bisa jadi yang terbesar di negara tercinta kita ini? Apakah artinya banyak yang kaf…? Bingung…….bingung……bingung……
Oktober 16, 2008 pada 5:29 am
OMGa kalian ini. masa ga boleh beda pendaapat. lagian lo sok tau banget, bilang ritual bali itu musyrik. jgn senak2nya dong. lo kira agama lo paling bener. hargai kebebasan pendapat. namanya media kan pasti ada yang ngebesut dan yang ngebesut pasti punya agenda. kalo lo ga suka, bikin koran sendiri aja. lo kira gampang bikin koran!!
Oktober 16, 2008 pada 12:50 pm
*duduk gelar tiker*
Oktober 17, 2008 pada 8:44 am
dunia emang begituan isinya, om and tante, mihak sini salah situ salah tengah salah ujung salah dah begitu kan nggak ada yg bener jadinya, apapun yang kita liat baca dan rasakan mari coba kita pikir dan renungkan, bagi kita yg berkwajiban berperang melawan kebatilan dan dosa, maka perangilah dengan cara2 yang bijak dan konteks yang bener, mudah2an kita mendapatkan kemenangan yang di rahmati olehNya, ingatlah kemenangan itu bukan semata-mata hasil, karena ini adalah dunia yang fana, tetapi kemenangan itu adalah melakukan tindakan baik yang berarti adalah perjuangan itu sendiri. Islam agamaku tentu aku tak akan rela apabila agamaku yang di salahkan, tetapi kalau individu yang berurusan hukum maka itu tanggungjawabnya secara pribadi dan itu terlepas dari agamanya apa, jadi jangan bebankan persoalan individu kekancah perang agama, karena kini saatnya bersatu untuk kebaikan dan kedamaian sebagaimana pesan seluruh agama yang diyakini para pengikutnya.
Masalah pro dan kontra bukanlah sesuatu yang tidak bisa diselesaikan, itu sebetulnya sangat mudah, kalau kita jelas2 mengedepankan akal sehat dan bukan egoisme semata, bagi para pelaku bisnis sebetulnya hal seperti ini yang diharapkan adanya konfrontasi yang akan membuat mereka terkenal dengan sedikit beaya sponsor, sebagaimana kata2 Sahabat Nabi yaitu Ali Bin Abi Thalib, “kalau mau terkenal kencingilah Sumur Zam-zam”.
entah itu bisnis gambar, tulisan, video dan lain2, kalau tendensinya adalah uang maka itu jelas ya uanglah pangkal dari segala permasalahan. jadi bukan peraturan yang dibuat, tetapi kontradiksi ada pada berkurangnya hasil bisnis tersebut.
cukup dulu ya thanks.
Oktober 25, 2008 pada 9:56 am
Saya berpihak pada Luna Maya… boleh khan???
Oktober 26, 2008 pada 6:56 pm
Jadi begini ya cara menuju kebangkitan Islam? Islam versi MUI?
Saya mendukung kebangkitan Indonesia saja lah… Indonesia Bangkit, semua didalamnya ikut bangkit, mungkin saja termasuk termasuk Islam…. yang pasti bukan Islam yang versi teroris, karena Islam versi yang itu cuma bikin dunia kacau, penuh kebencian, kekerasan, dan dikuasai ulama busuk bin korup yang kerjaannya mengadu-domba umat, memuja arab, memonopoli Tuhan dan mengkafir-kafirkan orang lain.
Ya Allah, kenapa Engkau diam saja melihat yang seperti ini? Apa memang sudah tak bisa apa-apa? Makin hari kok sepertinya para Ulama makin jauh lebih berkuasa dari Mu seh?!? Ayo dong buktikan kalau engkau MAHA KUASA!!
Amiiiin… Ya Allah…. AMIIIINNN!!!
November 1, 2008 pada 2:48 pm
Saya sih setuju dengan pembuat BLOG di atas, alasan utama saya malas baca berita politik di KOMPAS adalah yaa itu tadi :p …. KOMPAS banyak isinya, jadi kalau merasa ada corong2 kurang menyenangkan dari KOMPAS bisa buka bagian yang lain. Misalnya IPTEK. Kalau POlitik saya memang gak suka baca KOMPAS ketahuan banget berat sebelah.
SAYA TIDAK PERCAYA PADA MIMPI PLURALISME!!!! Di dunia ini tersebutlah beberapa negara maju di barat sana yang penuh dengan imigran dan sangat-sangat-sangat PLURALISTIK, tapi apa yang terjadi penekanan terhadap MINORITAS itu tetap ada. Ketika ISLAM menjadi minoritas dari suatu komunitas, rata2 mereka coba mengerti dan paham ohhh mayoritas maunya gitu. Makanya di ISLAM ada konsep hijrah, yang secara kasar “TIDAK SUKA SAMA KOMUNITAS ITU, maka sebaiknya pindah saja”, bukan apa-apa … hal ini pernah dipraktekkan Nabi Muhammad SAW. waktu pindah dari Mekkah ke Madinah. Madinah walau berbeda pandangan masyarakatnya terbuka.
Hari ini, gak ada satupun belahan dunia yang bisa menerima pola pikir LAIN seperti orang Madinah di masa lalu. ITU SUSAHNYA.
Akhirnya kita kembali ke pola pikir ke-JAHILIYAH-an. Tapi memang itu dunia kita, Mayoritas yang didengarkan.
Coba aja ketika di Singapura, Azan dilarang .. Apakah orang minoritas Islam mem-protes … Ya, mereka protes. Tapi mereka paham konsekuensi mayoritas-minoritas yang seyogianya memang sistem demokrasi yang paling VALID di dunia ini. Jadi gak ada ribut2 … Kayak Umat agama lain yang gak tahu malu yang posting di atas ini.
Inilah bedanya kalau Islam yang jadi minoritas dengan “umat lain” yang jadi minoritas. Inilah bedanya Indonesia dan BUKAN Indonesia.
Minoritas di Indonesia TERLALU DOBLE-STANDARD, anda hanya memilah hal yang menguntungkan diri anda sendiri, tanpa melihat sisi yang lain. Kenapa tidak akui saja hal ini
…
November 1, 2008 pada 3:01 pm
Comment @ saudara KENTUT yang berbunyi
” Kalo ga mau perbedaan, ya udah tinggal aja di hutan sono or tinggal disatu pulau dan bikin koloni ndiri, koran ndiri khusus untuk islam….lah bahasanya pake corong2 barat segala…. emang yang kita pake buat nulis blog ini emang buatan MUI? mobil, motor, telepon dan segala fasilitas yang membuat kita pintar sampe saat ini emang buatan MUI juga, Orang2 pinter diMUI apa mereka lulusan Universitas MUI Indonesia? Bos kalo mo nulis ngaca dulu ya… ga usalah agama dan perbedaan diangkat2, udah usang dari taon bahuela. CPD
PEACE
”
^^ Anda menunjuk diri sendiri siapa yang mesti tinggal di dalam hutan.
Sekian dan terima kasih.
November 6, 2008 pada 9:46 am
alright.. gitu ya…??
gaya koran yang lain gmn dalam mengobarkan permusuhan ??
malu dong kalo sample-nya kompas doang…
September 25, 2009 pada 7:18 am
kebenaran hanya ada satu! yakni islam… hidup berdampingan dengan musuh islam dengan segala perbedaannya… tidak mungkin bisa!!! dalam agama tidak ada toleransi!!! non islam harus tau diri! jika tidak mau menghormati islam di negara ini! lebih baik pergi jauh2…. jangan hanya kehutan… tapi ke vatikan sana!!! buat para umat kristen… jangan cuma bisa ngomong dan menghina… kalo kalian udah hapal satu “buku” alkitab, silahkan berdebat dengan saya jika kalian merasa benar…. jika kalian satu lembar alkitab saja belum hapal.. jangan berani2 bicara tentang agama kalian sendiri….. orang yang bodoh adalah orang yang tidak paham agamanya sendiri…. FB : azayaka01@gmail.com