Cara Shalat Taubat dan Shalat Hajat

khabarislam.wordpress.com. Assalamualaikum wr wb.

ustadz kami ingin bertanya bagaimanakah cara sholat Taubat, Sholat Hajat & Sholat Tasbih?

kapan waktu yang tepat untuk melaksanakannya? apakah ketiganya dilakukan secara bersamaan?

Jazakallah atas jawaban ustadz. wassalamualaikum wr wb

Andika Wisudiawan

Jawaban

Waalaikumussalam Wr Wb

Saudara Andhika yang dimuliakan Allah swt

Shalat Taubat

Shalat Taubat ini disunnahkan menurut kesepakatan para ulama empat madzhab, berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Nasai, Ibnu Majah, Baihaqi dan Tirmidzi yang mengatakan hadits hasan dari Abu Bakar berkata,”Aku mendengar Rasulullah saw bersabda,”Tidaklah seseorang melakukan suatu dosa lalu dia berdiri untuk bersuci (berwudhu) kemudian melakukan shalat—dua rakaat—kemudian memohon ampun kepada Allah kecuali Dia swt akan memberikan ampunan padanya.”

Kemudian beliau saw membaca ayat :

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُواْ أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُواْ اللّهَ فَاسْتَغْفَرُواْ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللّهُ وَلَمْ يُصِرُّواْ عَلَى مَا فَعَلُواْ وَهُمْ يَعْلَمُونَ ﴿١٣٥﴾
أُوْلَئِكَ جَزَآؤُهُم مَّغْفِرَةٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ ﴿١٣٦﴾

Artinya : “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka Mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan Itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (QS. Ali Imron : 135 – 136)

Didalam riwayat Thabrani dengan sanad hasan dari Abu ad Darda bahwa Nabi saw bersabda,”Barangsiapa yang berwudhu lalu membaguskan wudhunya lalu melaksanakan shalat dua rakaat atau empat rakaat, baik ia shalat wajib atau yang bukan wajib dengan membaguskan ruku, sujudnya lalu memohon ampunan kepada Allah maka Allah akan mengampuninya.”

Intinya bahwa orang itu melakukan taubat dan memohon ampunan kepada Allah swt atas dosa yang telah dilakukannya setelah dia menuanaikan suatu shalat (shalat apa pun) baik setelah shalat-shalat fardhu atau sunnah.

Adapula yang mengatakan bahwa ketika seorang melakukan suatu dosa maka dia bisa mengambil air wudhu lalu shalat dua rakaat dan memohon ampunan kepada Allah swt, sebagaimana hadits Abu Bakar diatas. Adapun cara melakukan shalat ini adalah seperti halnya shalat sunnah lainnya.

Shalat Hajat

DR. Abdullah al Faqih, didalam fatwanya, Markaz Ad Da’wah no 1390 mengatakan bahwa telah disebutkan didalam riwayat Tirmidzi, Ibnu Majah serta yang lainnya dari hadits Abdullah bin Abi Aufa’ bahwa Nabi saw,”Barangsiapa yang mempunyai suatu keperluan kepada Allah atau kepada seseorang dari anak Adam hendaklah dia berwudhu dan membaguskan wudhunya kemudian melaksanakan shalat dua rakaat kemudian dia memuji Allah bershalawat atas Nabi kemudian berkata
لا إله إلا الله الحليم الكريم سبحان الله رب العرش العظيم الحمد لله رب العالمين أسألك موجبات رحمتك وعزائم مغفرتك والغنيمة من كل بر والسلامة من كل إثم لا تدع لي ذنبا إلا غفرته ولا هما إلا فرجته ولا حاجة هي لك رضا إلا قضيتها يا أرحم الراحمين

Didalam riwayat Ibnu Majah terdapat tambahan,”Kemudian dia meminta kepada Allah tentang urusan dunia dan akherat sekehendaknya maka sesungguhnya ia akan ditetapkan.”

Para ahli ilmu menamakan shalat diatas dengan shalat hajat. Para ahli ilmu berbeda pendapat didalam mengamalkan hadits ini dikarenakan perbedaan diantara mereka tentang keberadaan / kekuatan hadits tersebut.

Sebagian mereka berpendapat bahwa hadits itu tidak boleh diamalkan dikarenakan hadits itu tidak kokoh. Karena didalam sanadnya terdapat Faid bin Abdurahman al Kufiy yang meriwayatkan dari Abdullah bin Abi Aufa’, dan ia termasuk orang yang ditinggalkan haditsnya dikalangan mereka.

Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa hadits tersebut dapat diamalkan karena dua hal :

1. Karena hadits tersebut memiliki banyak jalan dan bukti yang saling menguatkan, sementara Faid menurut mereka adalah orang yang haditsnya dapat ditulis (diriwayatkan)

2. Hadits ini termsuk didalam keutamaan amal dan keutamaan amal dapat dengan menggunakan hadits yang lemah jika ia berada dibawah asas yang teguh dan tidak bertentangan dengan yang lebih shahih. DR. Abdullah Faqih lebih cenderung kepada pendapat yang kedua.

Adapun tentang cara-caranya telah disebutkan didalam hadits diatas. (Fatawa as Sabakah al Islamiyah juz II hal 182)

Shalat Tasbih

Para ulama telah berselisih pendapat tentang hukum shalat tasbih menjadi dua pendapat : pendapat pertama mengatakan bahwa ia adalah sunnah sedangkan pendapat yang kedua melarangnya. Perbedaan pendapat mereka disebabkan perbedaan mereka pula terhadap keshahihan hadits yang berbicara tentang shalat ini.

Para ulama yang menshahihkannya mengatakan disunnahkannya shalat itu, diantara mereka adalah Daruquthniy, al Khatib al Baghdadiy, Abu Musa al Madaniy, Abu Bakar bin Abu Daud, Hakim, Suyuthi, al Hafizh Ibnu Hajar dan al Albaniy serta yang lainnya.

Sedangkan para ulama yang melemahkan hadits itu melarangnya, diantara mereka adalah Ibnul Jauziy, Sirojuddin al Qozwiniy, Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah, Imam Ahmad dan yang lainnya. Namun Ibnu Hajar mengatakan,”Aku mengatakan bahwa terdapat riwayat dari Ahmad bahwa dia menarik kembali hal itu (tentang kelemahan hadits itu).

Ali bin Said an Nasai mengatakan bahwa aku bertanya kepada Ahmad tentang shalat tasbih. Lalu dia (Ahmad) menjawab,”Aku melihat bahwa itu tidak sah sama sekali.” Aku mengatakan,”Al Mustamir bin ar Royan dari Abu al Jauzaa dari Abdullah bin ‘Amr.” Ahmad berkata,”Siapa yang telah berbicara kepadamu.” Aku menjawab,”Muslim bin Ibrahim.” Ahmad mengatakan,”Al Mustamir bisa dipercaya.”Tampaknya dia kaget. Penukilan dari Ahmad ini mengindikasikan bahwa beliau kembali kepada pendapat yang mensunnahkannya)

DR. Abdullah al Faqih memilih pendapat yang mensunnahkannya karena hadits itu diperkuat dari berbagai jalan dan bukti-bukti sehingga menjadikannya terangkat dan bisa dipakai sebagai hujjah. (Fatawa as Sabakah al Islamiyah juz III hal 605)

Ketiga shalat diatas—bagi mereka yang mengatakan sunnah—tidaklah terikat oleh waktu-waktu tertentu, artinya shalat-shalat itu bisa dilakukan kapan saja baik siang maupun malam kecuali pada waktu-waktu yang dilarang melakukan shalat, seperti : setelah shalat shubuh dan ashar, pada terbit dan terbenam matahari dan waktu istiwa (matahari benar-benar berada di posisi tengah hari) karena pada waktu-waktu ini terdapat perselisihan dikalangan ulama.

Wallahu A’lam

About these ads

4 Tanggapan to “Cara Shalat Taubat dan Shalat Hajat”

  1. mohon penjelasan
    saya pernah baca diinternet bahwa salat hajat itu bid’dah, apa benar mohon penjelasannya

    khabarislam
    kepada @ uyho yang drahmati Allah. Syukran katsiran atas pertanyaannya
    jawab: ini dalil yang sy ketahui …..
    “Shalat hajat merupakan syariat yang diajarkan Rasulullah saw,

    berdasarkan dalil atau hujjah hadits-hadits di bawah ini:

    “Barangsiapa yang memunyai kebutuhan (hajat) kepada Allah atau salah
    seorang manusia dari anak-cucu adam, maka wudhulah dengan sebaik-baik
    wudhu. Kemudian shalat dua rakaat (shalat Hajat), lalu memuji kepada
    Allah, mengucapkan salawat kepada Nabi ? Setelah itu,
    mengucapkan “Laa illah illallohul haliimul kariimu, subhaana…. (HR
    Tirmidzi dan Ibnu Majah)

    Diriwayatkan dari Abu Sirah an-Nakh’iy, dia berkata, “Seorang laki-
    laki menempuh perjalanan dari Yaman. Di tengah perjalan keledainya
    mati, lalu dia mengambil wudhu kemudian shalat dua rakaat, setelah
    itu berdoa. Dia mengucapkan, “Ya Allah, sesungguhnya saya datang dari
    negeri yang sangat jauh guna berjuang di jalan-Mu dan mencari ridha-
    Mu. Saya bersaksi bahwasanya Engkau menghidupkan makhluk yang mati
    dan membangkitkan manusia dari kuburnya, janganlah Engkau jadikan
    saya berhutang budi terhadap seseorang pada hari ini. Pada hari ini
    saya memohon kepada Engkau supaya membangkitkan keledaiku yang telah
    mati ini.” Maka, keledai itu bangun seketika, lalu mengibaskan kedua
    telinganya.” (HR Baihaqi; ia mengatakan, sanad cerita ini shahih)

    “Ada seorang yang buta matanya menemui Nabi saw, lalu ia
    mengatakan, “Sesungguhnya saya mendapatkan musibah pada mata saya,
    maka berdoalah kepada Allah (untuk) kesembuhanku.” Maka Nabi saw
    bersabda, “Pergilah, lalu berwudhu, kemudian shalatlah dua rakaat
    (shalat hajat). Setelah itu, berdoalah….” Dalam waktu yang singkat,
    laki-laki itu terlihat kembali seperti ia tidak pernah buta matanya.”
    Kemudian Rasulullah saw bersabda, “Jika kamu memiliki kebutuhan
    (hajat), maka lakukanlah seperti itu (shalat hajat).”
    (HR Tirmidzi)

    Setiap manusia memiliki kebutuhan dan keinginan, bahkan bisa
    dikatakan keinginan tersebut selalu ada dan tidak terbatas. Dari
    mulai keinginan yang dibutuhkan menyangkut dirinya sampai kepada
    keinginan yang dibutuhkan menyangkut sebuah negara. Bagi yang
    beriman, segala kebutuhan, cita-cita, harapan, dan keinginan
    tersebut, tidak serta merta selalu ditempuh melalui jalan usaha
    secara praktis belaka. Akan tetapi, ia akan terlebih dahulu
    mengadukannya kepada Allah SWT, sebab Dia adalah Dzat Yang Mahakaya,
    yang memiliki langit, bumi, dan seluruh alam semesta, Dzat Yang tidak
    bakhil dalam memberi kepada yang memohon dan meminta kepada-Nya.

    Oleh karena itu, Rasulullah saw setiap kali menghadapi kesulitan
    beliau selalu mengadukannya kepada Allah SWT melalui shalat. Mengadu
    dan memohon kepada Tuhan yang tidak pernah sekali pun berada dalam
    lemah dan miskin. Kenapa? Karena shalat adalah jalan keluar bagi
    mereka yang memiliki kesulitan dan kebutuhan, juga sebagai media
    dimana seorang hamba mengadukan segala persoalan hidup yang
    dihadapinya. Di dalam Al-Qur`an, Allah SWT berfirman,

    “Dan mintalah pertolongan kepada Tuhanmu dengan melaksanakan shalat
    dan dengan sikap sabar.” (QS Al-Baqarah [2]: 45)

    Shalat hajat, ditetapkan atau disyariatkan yang secara khusus
    dikaitkan kepada ibadah bagi yang sedang memiliki kebutuhan atau
    permasalahan. Dan tentunya, ini lebih spesifik dibandingkan dengan
    shalat-shalat lain dan memiliki suatu keistimewaan sendiri dari Allah
    dan Rasulullah saw.

    Selain itu, shalat hajat merupakan suatu cara paling tepat dalam
    mengadukan permasalahan yang sedang dihadapi oleh seorang muslim.”

    Wallahua’lam bishowab.
    Sumber

    • ha ha.,.,, sampean itu lucu,,,. internt itu gk selaany, benar, solat hajad itu sunah lihat kitab azkar nawawi bab sholat sunnah, di sana di jelaskan., panjang lebar,,,,,

  2. Assalamualaikum Wr Wb.

    Pak ustadz, sya mau tanya..
    saya telah melakukan zinah sama pacar saya,.tapi tidak sampek parah cuma sekedar pegang – pegang saja dan itu sering saya lakukan..apakah dosa saya akan diampuni oleh Allah SWT ?.apakah dosa saya sama seperti dosa orang yang berzinah sampek sang pacar hamil ?..dan sekarang saya sadar dan ingin bertobat…terimakasih sebelumnya..

    wassalamualaikum Wr Wb.

  3. ya low di ulang geh dadi gedew,,,., pak .,.,., seng sae geh tobah., ters nikah.,.,,, itu akan lebih baek,.,.,

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 25 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: