Jubir HTI, HM Ismail Yusanto: Kapitalisme Ambruk Karena Riba dan Judi

khabarislam.wordpress.com. Sejak ideologi Kapitalisme diterapkan, nilai keagamaan, kemanusiaan dan moralitas semakin tergerus. Satu-satunya nilai yang mendominasi hanyalah nilai material. Namun, nilai materi ini pun malah memperlebar kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Itulah bukti yang tidak dapat terbantahkan, bahwa Kapitalisme adalah ideologi yang cacat. Lantas apa saja cacatnya itu? Dapatkah cacat tersebut diperbaiki? Bilamana Kapitalisme ambruk?

Temukan jawabannya dalam wawancara wartawan al-wa’ie Joko Prasetyo dengan Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia, HM Ismail Yusanto. Berikut petikannya.


Apa saja cacat mendasar ideologi Kapitalisme?

Pertama: pandangannya mengenai problematika ekonomi. Kapitalisme memandang bahwa problem ekonomi itu adalah scarcity atau kelangkaan. Pandangan ini didasarkan pada kenyataan bahwa ada gap antara kebutuhan yang disebut tidak terbatas dengan alat pemuas kebutuhan yang terbatas. Karena alat pemuas kebutuhan tidak mencukupi kebutuhan, di situlah disebut adanya kelangkaan.

Nah, untuk mengatasinya, produksi harus dipacu. Jadi Kapitalisme itu memiliki dorongan yang luar biasa untuk memproduksi barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan itu. Padahal pada faktanya, tidak tepat seperti itu, karena meskipun diproduksi, katakanlah uang sebanyak kayak apa, tetap saja ada orang yang tidak punya uang. Meski diproduksi rumah sebanyak kayak apa, tetap saja ada orang yang tidak punya rumah. Begitu juga makanan. Jadi problemnya itu bukan pada scarcity, tetapi ternyata pada distribusi.

Lagipula kebutuhan itu sebetulnya itu terbatas. Yang tidak terbatas itu adalah keinginan. Beda need dengan want. Kalau need itu terbatas, want itu tidak terbatas. Jadi, scarcity itu tidak betul.


Kedua?

Pandangan bahwa nilai paling tinggi dari ekonomi itu adalah saat kebutuhan terpenuhi dan materi bisa diperoleh. Ini telah menimbulkan satu individu dan masyarakat yang kemudian sangat mengagungkan nilai-nilai materialisme. Pasalnya, bagi mereka tidak ada nilai yang lebih tinggi kecuali nilai materi.

Nah, dari sini kemudian nilai-nilai luhur seperti nilai-nilai keharmonisan, nilai-nilai persaudaraan, termasuk juga nilai-nilai agama terabaikan. Jadi nilai materialisme itulah yang sangat diagungkan.


Dampaknya?

Dampaknya adalah kerusakan yang luar biasa. Sebabnya, dengan semangat materialisme itulah kemudian dorongan untuk mencari keuntungan dalam setiap usaha itu sangat besar, tak peduli dengan nilai-nilai yang lainnya yang bersifat non-material.

Di situlah kemudian kita melihat bahwa Kapitalisme telah mendorong manusia itu untuk memproduksi segala macam. Kalau produksi itu dianggap sebagai industri maka industri dalam Kapitalisme itu bukan hanya manufaktur, bukan hanya barang-barang; tetapi juga industri hiburan, bahkan juga industri seks, karena itu dianggap sebagai alat pemuas. Sekarang muncul lagi dengan istilah industri politik, karena di sana ada cost and benefit, ada modal; kemudian ada untung dari setiap proses politik yang mereka lakukan.

Begitu. Jadi semua-muanya itu berujung pada perolehan material termasuk juga industri agama.


Agama dijadikan sebagai industri juga?

Iya, misalnya dalam setiap perayaan hari-hari besar agama. Misalnya, Natal itu bagaikan sebuah industri karena sebenarnya tidak ada landasan atau dasar teologis, adanya Santa Klaus, Piet Hitam, segala macam itu. Itu semua menjadi asesoris yang dikonversikan ke dalam nilai jual. Semuanya menjadi industri. Itulah nilai yang paling tinggi.

Padahal pada kenyataannya manusia itu kan tidak hanya mendasarkan tindakannya pada materialisme. Ada nilai-nilai lain, termasuk di dalamnya adalah nilai-nilai agama. Bahkan kalau dalam Islam kan nilai-nilai agama itulah yang menjadi panglimanya. Agama menjadi dasar utamanya dalam setiap kegiatan manusia termasuk di dalam ekonomi.

Dalam Islam ekonomi pun didasarkan pada agama, pada halal dan haram. Jadi nilai tertinggi standarnya bukan materi, tetapi bagaimana keridhaan Allah SWT bisa diraih. Karena itu, halal-haram mesti diperhatikan dalam kegiatan ekonomi. Keuntungan dalam ekonomi pasti akan diraih, tetapi dicapai dengan cara yang benar dengan cara yang halal. Itu yang kedua.


Yang Ketiga?

Cacat ketiga adalah nilai kebahagiaan. Yang disebut dengan kepuasan, kebahagiaan, dalam Kapitalisme itu ya terpenuhinya kebutuhan material itu atau tercapainya nilai material itu. Itu bertentangan dengan pandangan agama, pandangan Islam.

Keempat, manipulatif. Karena dalam Kapitalisme itu dorongan produksi amat dominan, tak jarang itu dilakukan dengan menggunakan segala cara. Cara-cara semacam manipulasi, yang sebenarnya sudah dikenal—ada manipulasi perpajakan ada manipulasi akutansi, kemudian manipulasi macam-macam itu—sebenarnya lahir dari ideologi Kapitalisme. Termasuk sekarang ini, yang paling mengerikan adalah bagaimana Kapitalisme menggunakan negara untuk meraih keuntungannya, dari sana lahirlah corporate state, korporatokrasi; negara dikelola oleh perusahaan. Keputusan perang dan tidak itu bukan didasarkan pada kepentingan negara, tetapi kepentingan perusahaan untuk menjual senjatanya, untuk menjual mesiu, untuk memperoleh bahan baku, untuk mendapatkan proyek-proyek, segala macam. Contohnya yang terjadi di Irak, di Afganistan dan sebagainya.


Ekonomi Kapitalisme bertumpu pada mekanisme pasar. Betulkah dengan mekanisme pasar distribusi kekayaan bisa diwujudkan secara adil?

Mengenai distribusi kekayaan, Kapitalisme percaya bahwa ada tangan yang tidak terlihat (invisible hand) yang akan mengatur distribusi itu dengan sebaik-baiknya. Ketika ada kemakmuran individu maka akan didapat kemakmuran kolektif. Padahal kenyataannya tidak ada itu invisible hand. Jadi tidak ada apa yang disebut kemakmuran bersama. Ini karena watak Kapitalisme yang cenderung eksploitatif. Ketika ada eksploitasi pasti akan ada the winner group dan the losser group. Nah, kelompok yang kalah atau tersisih ini yang kemudian menjadi kelompok penderita dalam sistem ekonomi kapitalis.


Siapa saja mereka yang kalah itu?

Misalnya mereka yang tinggal di bantaran sungai, tinggal di emperan toko, tinggal di sepanjang jalur kereta api. Kalau di Amerika ya mereka-mereka yang tuna wisma, yang homeless segala macam. Yang begitu-begitu itu selalu ada dalam sistem kapitalis. Artinya, sekali lagi, tangan yang tidak kelihatan itu memang benar-benar tidak ada, begitu.


Jadi Kapitalisme gagal meratakan kesejahteraan?

Begitulah. Kapitalisme memang gagal menciptakan sebuah masyarakat yang sejahtera bersama. Kesejahteraan hanya dinikmati oleh segelintir orang. Protes masyarakat Barat terhadap simbol Kapitalisme di Wall Street, dengan mengatakan bahwa we are ninety ninepercent itu sebenarnya menunjukan yang tadi saya sebut itu. Ada the winner group dan ada yang the looser group. Bahkan yang kalah itu ternyata lebih banyak daripada yang menang. Yang menang itu hanya satu persen itu. Apalagi ketika mereka yang satu persen ini punya masalah lalu mereka menggunakan negara, dengan istilah dana talangan (bailout) segala macam itu.

Itulah yang disebut oleh Stiglitz, bahwa Kapitalisme itu off one percent, for one percent, by one percent itu. Itulah hakikat demokrasi mereka. Jadi pada akhirnya hanya pemilik modal saja yang memenangkan pertarungan politik, dan ketika mereka mendapatkan kekuasaan politik, mereka gunakan untuk mereka sendiri. Akhirnya, kekayaan berputar untuk diri mereka; off one percent, for one percent by one percent. Itu satu.


Kedua?

Dalam hal-hal tertentu, mekanisme pasar itu bisa diterima. Maksudnya, harga itu memang ditentukan oleh permintaan dan penawaran barang atau jasa. Saat penawaran ‘ketemu’ dengan permintaan di pasar, akan terbentuklah harga. Jadi sebatas ini sebenarnya masih bisa diterima.

Namun, ada dua persoalan dalam mekanisme pasar. Pertama, nilai suatu barang itu sebenarnya tidak hanya ditentukan oleh mekanisme pasar (harga), tetapi oleh nilai yang lain. Harga itu bukan penentu, bukan satu-satunya penentu nilai dari suatu barang.


Maksudnya?

Tegasnya begini, narkoba, misalnya. Walaupun narkoba memiliki harga—karena di situ ada penawaran dan permintaan—ia merupakan barang yang tidak berharga dalam pandangan Islam. Sama seperti jasa-jasa lainnya yang dilarang. Nah, di dalam Islam itu tidak boleh masuk ke dalam pasar, tetapi dalam Kapitalisme itu boleh selama ada permintaan ada penawaran. Nah, itu satu.

Kedua, ada barang dan jasa tertentu yang tidak boleh semata-mata ditentukan oleh mekanisme pasar, begitu. Misalnya menyangkut kebutuhan-kebutuhan dasar, katakanlah dalam kehidupan kita di Indonesia itu beras, misalnya; tidak semata-mata ditentukan oleh mekanisme pasar.


Mengapa?

Karena menyangkut hajat hidup orang banyak jadi pemerintah boleh melakukan intervensi meskipun tidak dalam arti menentukan harga.

Ketiga, ada barang yang justru tidak boleh ditentukan oleh mekanisme pasar sama sekali. Misalnya barang milik umum seperti minyak dan gas, itu. Negara bisa menentukan berapa harganya karena ini hakikatnya milik rakyat. Jadi, harganya tidak boleh dilepas oleh mekanisme pasar.

Jadi kalau negara itu mengambil keputusan untuk memberikan barang tersebut secara gratis, walaupun itu barang sebenarnya dicari orang, artinya dalam mekanisme pasar bisa bernilai tinggi, itu tidak salah. Sebaliknya juga kalau negara itu menghargai sesuatu supaya hasilnya diberikan lagi kepada rakyat itu juga tidak salah. Jadi tidak semata-mata bisa diserahkan kepada mekanisme pasar, begitu.


Kapitalisme diyakini memiliki kemampuan adaptasi, misalnya ketika ada kesenjangan sosial, ada modifikasi berupa santunan, sehingga Kapitalisme akan mampu terus bertahan. Komentar Anda bagaimana?

Memang ada beberapa bagian dari Kapitalisme itu yang bisa di-adjust, bisa disesuaikan dan dimodifikasi seperti tadi itu. Misalnya, kesenjangan itu ditutup dengan apa yang disebut dengan social security net, jaring pengaman sosial. Lahirnya jaminan sosial, kemudian bahkan juga asuransi sosial, juga ada CSR (Corporate Social Responsibility), dll itu sebenarnya didasarkan pada kehendak untuk menutupi bolong-bolong di dalam Kapitalisme menyangkut kesenjangan itu. Namun, itu sifatnya parsial. Dalam arti, ada bagian-bagian tertentu yang tidak di-adjust, yang tidak bisa di modifikasi.


Misalnya?

Misalnya soal sistem keuangan. Sistem keuangan di dalam Kapitalisme itu sebenarnya didasarkan pada dua hal yang sangat dilarang di dalam Islam, yakni riba dan judi. Sistem keuangan Kapitalisme itu, jika dibolak-balik, sebenarnya cuma riba dan judi. Seluruh produk keuangan dalam Kapitalisme itu, ya cuma dua itu. Yang namanya kredit, leasing, asuransi, saham, semuanya itu ujungnya cuma judi sama riba. Itu mau di-adjust bagaimana?

Dalam hal-hal yang tidak bisa di-adjust itulah Kapitalisme itu ambruk. Fakta yang ada di Eropa sekarang ini adalah kehancuran Kapitalisme dalam perkara-perkara yang memang sudah tidak bisa lagi dimodifikasi. Mereka mungkin saja melakukan modifikasi dengan menutup bolong-bolong kesenjangan tetapi kehancuran sistem keuangan Kapitalisme tidak bisa ditutup. Dengan apa dia ditutup? Karena memang sistemnya seperti itu.


Jadi Kapitalisme itu cacat sejak lahir?

Iya.


Akankah segera runtuh?

Runtuh dalam waktu cepat mungkin tidak. Seperti kehancuran sebuah bangunan, yang sejak awal dibangun pondasinya retak, lalu tembok retak, begitu. Sampai titik tertentu akhirnya ambruk. Jadi ambruknya itu pelan-pelan. Seperti sekarang ini kan, kerusakan Kapitalisme dimulai dari kesenjangan, kerusakan moral, kerusakan lingkungan, family disorder dan kerusakan lain sebagainya hingga akhirnya Kapitalisme benar-benar hancur sama sekali.

Sumber

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: