Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia Muhammad Ismail Yusanto: Ancaman Justru dari Penganut Demokrasi Sendiri

khabarislam.wordpress.com. Perdana Menteri Inggris David Cameron dalam kunjungannya ke Indonesia kemarin sekilas seperti memuji-muji Indonesia. Tapi apakah benar itu pujian yang tulus? Sesuai faktakah? Atau ada maksud lain? Temukan jawabannya dalam wawancara wartawan mediaumat.com Joko Prasetyo dengan Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia Muhammad Ismail Yusanto. Berikut petikannya.

Bagaimana tanggapan Anda  dengan pidato David Cameron kemarin yang menyatakan “bahaya ekstrimis Islam yang menganggap Islam tidak sejalan dengan demokrasi”?

Saya kira David Cameron tahu persis rival dari sistem demokrasi, kapitalis, sekuler  yang tengah diterapkan sekarang ini, di antaranya, yaitu Islam.

Tapi dia kan memuji Indonesia sebagai Model Demokrasi Negara Muslim?

Islam disini tentu bukan Islam yang mereka maksud tetapi Islam politis ideologis. Sebab satu sisi dia juga berusaha untuk menarik simpati dari kalangan Muslim juga, tetapi tentu saja Muslim yang ia sebut sebagai Muslim yang moderat, muslim yang demokratis, di dalam sikap seperti ini sebenarnya bertentangan dengan prinsip demokrasi itu sendiri.

Bertentangan bagaimana?

Kalau demokrasi itu diartikan sebagai pemerintahan rakyat, pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat, sesungguhnya ya berpulang kepada rakyat, rakyat maunya apa, kan begitu. Termasuk bila rakyat berkehendak untuk tegaknya kembali sistem politik dan pemerintahan   Islam, itu dibangun sebagai bagian dari keniscayaan demokrasi, kan begitu.

Begitu juga kalau demokrasi diartikan sebagai sebuah sistem yang menghargai kebebasan, berfikir dan berpendapat mestinya itu juga harus dianggap sebagai bagian dari demokrasi itu sendiri. Kebebasan orang untuk menjadi seorang Muslim yang sejati. Termasuk diekspresikan ke dalam gagasan-gasan politiknya, begitu.

Nah, tapi inilah ironi dari demokrasi itu sendiri. Ironi dari demokrasi, satu sisi mengatakan bahwa demokrasi itu menjamin kebebasan berfikir, kebebasan berpendapat. Tetapi ketika pemikiran dan pendapat itu sampai kepada sesuatu yang tidak disukai atau tidak dikehendaki oleh demokrasi itu maka kemudian demokrasi menjadi diktator juga, karena dia menentukan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh.

Karenanya saya ingin mengatakan bahwa, ancaman dari demokrasi itu justru datang dari orang-orang penganut demokrasi itu sendiri. Lihatlah siapa yang menjadi penghancur paling kuat dari tatanan negara demokrasi itu sendiri. Misalnya yang terjadi di Irak, Afghanistan, itu siapa yang menghancurkan itu? Itu kan negara yang mengaku bahwa mereka adalah negara demokrasi. Termasuk juga Inggris.

Nah di situ, Cameron, atau sebelumnya Tony Blair, Inggris itu menjadi sekutu setia Amerika di dalam menghancurkan negara-negara yang dianggapnya tidak selaras dengan mereka.

Jadi saya ingin mengatakan bahwa yang menghancurkan demokrasi itu ya mereka sendiri, bukan oknum lain, begitu. Karena itu sungguh aneh pidato Cameron itu yang mengatakan bahwa ancaman demokrasi datang dari ekstrimis yang mengatakan bahwa Islam itu tidak sesuai dengan demokrasi.

Kalau seorang Muslim yang paham, pasti akan mengatakan bahwa Islam itu berbeda dengan demokrasi. Karena demokrasi mengajarkan kedaulatan di tangan rakyat sementara Islam mengajarkan kedaulatan di tangan Allah. Tetapi Cameron tidak tunjukan mana dari yang dia katakan itu yang betul-betul yang kemudian merusak demokrasi. Karena yang justru merusak demokrasi itu adalah mereka sendiri kok!

Lantas, pujian Cameron terhadap demokrasi Indonesia apakah sesuai dengan realita atau tidak?

Bahwa Indonesia itu telah melakukan satu proses transisi dari pemerintahan Soeharto kepada pemerintahan baru sekarang ini, telah melakukan proses-proses transisi lalu sekarang ini mengembangkan sebuah tatanan baru yang berbeda dengan masa Soeharto itu betul.

Tapi dikatakan bahwa ini adalah bentuk keberhasilan demokrasi, tergantung apa yang dimaksud keberhasilan itu. Kalau keberhasilan itu sekedar dilihat ada pemilu, ada kekuasaan dari satu orang kepada orang lain, melalui mekanisme tertentu, iya. Tetapi kalau keberhasilan itu adalah—meminjam istilah orang-orang itu— keberhasilan substansial bagaimana pergiliran kekuasaan itu kemudian melahirkan kehidupan masyarakat yang lebih baik, tunggu dulu.

Karena pada kenyataannya kan, kita lihat misalnya bahwa kekuasaan itu meski berganti secara damai seperti itu tetapi keadaan masyarakat tidak menjadi lebih baik. Terbukti dari angka kemiskinan punya kecenderungan menaik, angka korupsi yang juga menaik, kemudian juga konflik sosial di tengah-tengah masyarakat yang juga cenderung menaik.

Lalu …sosial disorder cenderung menaik, kemudian ketidak percayaan kepada hukum cenderung menaik, oleh karena berbagai skandal di dalam penegakan hukum tidak percaya kepada polisi, tidak percaya kepada hakim, peradilan dan lain segala macam. Lahirnya KPK itu kan menunjukan ketidak percayaan kepada lembaga.

Nah, bagaimana kita bisa menyebut bahwa ini sebuah keberhasilan? Ketika distrust itu begitu masif di tengah-tengah masyarakat, karena itu apa yang dikatakan Cameron itu adalah pujian kosong yang jika tidak diwaspadai justru melenakan kita semua.

Apalagi kalau kita pandang secara substansial, bahwa justru dengan sistem yang ada sekarang ini itu semakin menjauhkan dari gagasan-gagasan utama, yang ingin diraih oleh masyarakat dan negara ini yaitu masyarakat yang adil, sejahtera.

Sekarang ini justru yang semakin berkembang adalah ketidakadilan ekonomi, ketidakadilan hukum, ketidakadilan sosial, ketidakadilan macam-macam.

Begitu juga kesejahteraan. Kemiskinan makin merajalela, jadi aneh kalau kemudian orang senang dipuji oleh Cameron, dengan pujian yang sebenarnya itu menutupi mata kita terhadap fakta-fakta dari jumlah kegagalan yang sangat mencolok.

Cameron dan SBY pun menjadi saksi pembelian sebelas pesawat airbus dari Inggris. Komentar anda?

Nah itu saya kira disitu jawaban sesungguhnya bahwa ini adalah pidato dari seorang penjual jadi pujian itu adalah pujian-pujian dari seorang penjual kepada calon pembeli. Dan kita ini pembeli yang saya pikir agak kurang cerdas. Karena ya kita memang diperlukan Inggris untuk membeli produk mereka.

Sebelas unit airbus itu sangat besar nilainya,sekitar Rp 23 trilyun! Jadi sebenarnya itu adalah politik dagang biasa, karena itu aneh ya, kalau kita yang memang mau  membeli barang mereka, kemudian kita dipuji-puji dan kita senang, kan begitu.

Umpamanya seperti tahun lalu, bahwa Lion Air itu membeli sekian puluh pesawat Boeing dari Amerika, Obama kan muji-muji Indonesia dulu. Jadi ini sebenarnya kan, Presiden itu sedang berdagang itu dan pembelinya, pembeli yang agak kurang cerdas juga

Sumber

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: