MENGENAL WALI YANG ASWAJA

khabarislam.wordpress.com. MENGENAL WALI YANG ASWAJA Oleh Abulwafa Romli Imam Ali bin Muhammad al-Jarjani dalam al-Ta’rifat-nya berkata: “Term al-waliy itu mengikuti wazan fa’iyl (istilah ini terkait ilmu sharof, bagi kita yang tidak pernah mempelajarinya tentu tidak akan paham) dengan makna faa’il, yaitu orang yang terus melakukan ketaatan dengan tanpa mencampurnya dengan maksiat, dan ini biasa disebut wali kasbiy (derajat wali hasil kerja kerasnya sendiri); atau mengikuti wazan fa’iyl dengan makna maf’uul, yaitu orang yang mendapat limpahan ihsan (pemberian kebaikan) dan ifdlal (pemberian anugerah) dari Allah swt, dan ini biasa disebut wali ladunniy (derajat wali yang lasung diberikan oleh Allah, dimana salah satu sebabnya adalah orang tuanya atau gurunya yang telah menjadi wali, yang terus berdoa kepada Allah agar anaknya atau muridnya juga menjadi wali, lalu Allah mengabulkannya). Wali seperti ini ada yang dulunya adalah ahli maksiat, lalu tiba-tiba kondisinya berubah 180 derajat, karena mendapat ihsan dan ifdlal dari Allah swt. Wali (al-waliy) adalah al-Aarif (orang yang mengenal / makrifat) kepada Allah swt dan kepada sifat-sifat-Nya, yang kontinu dalam melaksanakan ketaatan, yang menjauhi kemaksiatan, dan yang tidak berlebihan dalam menikmati dan menyenangi kelazatan dan sahwat dunia”. Arti makrifat kepada Allah ialah mengerti bahwa manusia (termasuk dirinya), alam semesta dan kehidupan, semuanya adalah makhluk (ciptaan) dan pasti ada penciptanya. Kemudian ia menemukan dan meyakini dengan seyakin-yakinnya bahwa penciptanya adalah Allah swt. Jadi ia makrifat kepada Allah melalui proses berfikir mengenai ciptaan-Nya. Sebab mustahil manusia, alam semesta dan kehidupan yang luas dan besarnya tidak terukur dan tidak pula terdeteksi oleh kekuatan akal manusia, itu terjadi tanpa ada yang menciptakannya. Sedang benda sekecil jarum saja ada yang menciptakannya. Makrifat kepada Allah itu bukan melihat langsung Zat (diri) Allah, baik dengan mata kepala atau dengan mata hati seperti klaim sebagian sufiyah. Karena semua manusia selain para rasul, baik muslim atau non muslim, semuanya dituntut agar beriman kepada Allah sebagai Pencipta. Sedangkan iman itu hanya terkait dengan perkara-perkara ghaib. Kita beriman kepada Allah kerena kita belum melihat Diri Allah secara langsung. Sedang al-Qur’an dan as-Sunnah keduanya telah menjelaskan bahwa Diri Allah itu bisa dilihat di akhirat saja, yaitu di surga, sebagai nikmat terbesar bagi penduduk surga. Sedangkan wajibnya beriman kepada Allah itu harus sampai mati. Berarti manusia itu selain para rasul tidak ada yang bisa melihat Diri Allah di dunia ini, karena kalau ada yang bisa melihatnya, maka ia sudah tidak wajib beriman lagi, karena baginya Allah sudah tidak ghaib lagi. Inilah bukti bahwa klaim sebagian sufiyah diatas adalah klaim bathil. Bisa saja yang telah dilihat oleh mereka hanyalah Iblis yang mengaku sebagai Tuhan, mengaku sebagai Allah swt. Ini banyak dijelaskan oleh para ulama, termasuk dalam kitab manaqib Syaikh Abdul Qadir Jailani yang pernah didatangi Iblis yang mengaku sebagai Allah swt. Dan termasuk makrifat kepada Allah swt adalah makrifat kepada sifat-sifat-Nya. Pembagian Wali: Wali itu terbagi menjadi dua: Wali Allah dan wali Thaghut. Dalam hal ini, Allah swt berfirman:

 اَللهُ وَلِيُّ الَّذِيْنَ آمَنُوْا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ، وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوْتُ يُخْرِجُوْنَهُمْ مِنَ النُّوْرِ إِلَى الظُّلُمَاتِ، أُوْلَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيْهَا خَالِدُوْنَ .

“Allah wali (pelindung / penolong) bagi orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Sedang orang-orang kafir, wali-wali mereka adalah thaghut (syetan), yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”. QS al-Baqaroh[2]: 257.

Pada ayat diatas Allah swt menghabarkan bahwa Dia adalah wali, yakni al-waliy dengan wazan fa’iyl bermakna faa’il (pelindung / penolong) bagi orang-orang yang beriman. Berarti orang-orang yang beriman adalah wali, yakni al-waliy dengan wazan fa’iyl bermakna maf’uwl (yang dilindungi / yang ditolong) bagi Allah swt. Allah mengeluarkan para walinya dari kegelapan, yakni dari kekufuran, termasuk dari kemusyrikan, kesesatan dan bid’ah. Berarti para wali Allah adalah orang-orang yang dikeluarkan dari kegelapan, yakni orang-orang yang meninggalkan kegelapan. Dan Allah memasukkan mereka kepada cahaya, yakni cahaya iman dan Islam. Sedang orang-orang kafir itu menjadi wali-wali (yang dilindungi / yang ditolong oleh) Thaghut (syetan). Berarti Thaghut adalah wali (pelindung / penolong) bagi orang-orang kafir. Thaghut mengeluarkan para walinya dari cahaya, dan memasukkannya kepada kegelapan. Ini sangat kontradiksi dengan di atas. Wali Allah Wali Allah atau wali Rahman, adalah orang mukmin yang bertakwa. Dalam hal ini Allah swt berfirman:

 أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ، الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَكَانُوْا يَتَّقُوْنَ …

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa”. QS Yunus[10]: 62-63.

Pada ayat di atas Allah mengkhabarkan bahwa wali-wali Allah adalah orang-orang yang beriman yang selalu bertakwa. Imam Ghazali rh dalam al-Ihya’-nya menjelaskan, bahwa iman itu memiliki tiga peringkat; 1- Al-‘Iffah, yaitu menahan diri dari syahwat (kesenangan dunia), sedang subyeknya dinamakan afiyf. 2- Al-Waro’, yaitu menahan diri dari syahwat dan syubhat (perkara yang tidak jelas status hukumnya), sedang subyeknya dinamakan warok. 3- At-Taqwa, yaitu menahan diri dari syahwat, syubhat dan perkara yang dilarang atau diharamkan, sedang subyeknya dinamakan taqiy atau muttaqiy. Dan 4- Ash-Shidqu, yaitu menahan diri dari syahwat, syubhat, perkara-perkara yang dilarang atau diharamkan dan dari perkara mubah / halal, karena khawatir terjatuh ke dalam perkara yang dilarang atau diharamkan. Sedang subyeknya dinamakan shiddiyq. Dari uraian diatas menjadi jelas bahwa Wali Allah adalah orang mukmin (sudah tentu muslim) yang bertakwa, yaitu orang mukmin yang telah mencapai peringkat takwa, yakni orang mukmin yang telah menahan diri (menjauhi) dari perkara syahwat, syubhat, dan haram. Dan terkait wali Allah, Rasulullah saw bersabda:

 إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْئٍ أَحَبَّ إليّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ، وَلَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا كُنْتُ أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يَبْصُرُ بِهِ وَيَدَّهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَلَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَإِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيْذَنَّهُ . رواه البخاري عن أبي هريرة رضي الله عنه.

“Sesungguhnya Allah swt berfirman: “Barang siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku mengumumkan perang terhadapnya. Tidaklah hamba-Ku beribadah kepada-Ku dengan sesuatu yang paling Aku cintai daripada sesuatu yang talah Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku tidak henti-hentinya beribadah kepada-Ku dengan yang sunnah-sunnah hingga Aku mencintainya. Lalu ketika Aku mencintainya, maka aku menjadi (menjaga) pendengarannya yang ia mendengar dengannya, menjadi penglihatannya yang ia melihat dengannya, menjadi tangannya yang ia menyentuh dengannya, dan menjadi kakinya yang ia berjalan dengannya. Dan andaikan ia meminta kepada-Ku, niscaya Aku berikan permintaannya, dan andaikan ia berlindung dengan-Ku, niscaya Aku melindunginya”. HR Bukhari dari Abu Hurairah ra.

Pada hadis diatas Allah swt melalui Rasul-Nya telah memberi khabar terkait karakter wali Allah, yaitu hamba Allah yang selalu melaksanakan ibadah fardlu / wajib (termasuk kewajiban menjauhi apasaja yang diharamkan) dan ibadah sunnah (termasuk sunnah menjauhi apasaja yang makruh). Sedangkan arti Allah menjadi pendengaran, penglihatan, tangan dan kaki hamba-Nya, adalah bahwa Allah memberi keistimewaan kepadanya, sehingga bisa mendengar dan melihat diluar kemampuan orang normal, juga bisa menyentuh dan berjalan diluar kemampuan orang normal. Inilah yang dinamakan karomah. Atau artinya bahwa Allah menjaga pendengaran, penglihatan, tangan dan kakinya dari melakukan maksiat dan munkar. Jadi para wali Allah itu adalah orang-orang yang bertakwa. Dan terkait wali Allah, Imam Ibnu Qayyim rh dalam kitab al-Ruh-nya berkata: “Wali-wali Allah adalah orang-orang yang ikhlas dan yang menjadikan Rasulullah saw sebagai hakim dalam menentukan halal dan haram, yang berpegang teguh dengan sunnahnya, yang tidak membuat bid’ah dan tidak pula mengajak kepada bid’ah, tidak bergabung selain dengan golongan Allah, Rasulullah dan sahabatnya, tidak menjadikan agama sebagai permainan dan hiburan, tidak suka mendengarkan suara syetan sehingga mengalahkan suara al-Qur’an, tidak memilih berteman dengan para pemuda kecuali untuk mencari ridla Allah, tidak memilih musik dan nyanyian sehingga mengalahkan tujuh ayat yang diulang-ulang dalam shalat. Wali Rahman itu tidak akan serupa dengan wali syetan, kecuali bagi orang yang tidak punya mata hati (bashiroh).

Bagaimana bisa orang-orang yang berpaling dari kitab Allah dan petunjuk serta sunnah Rasul-Nya, dan menyalahi keduanya untuk mengambil yang lainnya, mereka menjadi wali-wali Allah?! Mereka benar-benar memukul-mukul dadanya (sombong seperti kongkong) ketika menyalahi petunjuk dan sunnahnya, dan mengambil selain petunjuk dan sunnahnya. Padahal Allah swt benar-benar berfirman:

 وَمَا كَانُوْا أَوْلِيَاؤُهُ، إِنْ أَوْلِيَاؤُهُ إِلَّا الْمُتَّقُوْنَ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ .

“Dan tiadalah mereka itu wali-wali-Nya. Tidaklah ada wali-wali-Nya kecuali orang-orang yang bertakwa, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya”. QS al-Anfal[8]: 34.

Jadi wali-wali Rohman adalah orang-orang yang selalu mengerjakan apasaja yang dicintai oleh al-Rohman, berdakwah kepada-Nya dan memerangi siapasaja yang keluar darinya. Sedang wali-wali syetan adalah orang-orang yang selalu mengerjakan apasaja yang dicintai oleh syetan, berdakwah kepadanya dan memerangi siapasaja yang keluar darinya”. Wali Thaghut Wali Thaghut (syetan) adalah kebalikan dari wali Allah, yaitu orang kafir dan musyrik, atau orang muslim yang telah kehilangan karakter takwanya, yakni orang muslim yang terjerumus ke dalam kubangan syahwat, syubhat dan haram. Ia telah menerjang segala hal dan segala perkara yang terkatagori syahwat, syubhat dan haram. Dan termasuk haram adalah meninggalkan kewajiban atau kefardluan agama Islam atas kaum muslim. Lebih jelasnya, ia telah melanggar dan menolak syariat Islam. Lebih jelasnya lagi, ia telah melanggar dan menolak hukum-hukum Allah swt untuk mengatur kehidupan, masyarakat dan negara. Berarti ia telah menerapkan dan mendakwahkan syariat Thaghut atau hukum-hukum Thaghut. Karena antara hukum Allah dan hukum Thaghut atau antara Islam dan kafir, adalah laksana antara barat dan timur, dimana kalau kita berjalan kebarat, berarti kita menjauhi timur dan sebaliknya. Juga karena yang namanya kehidupan, bermasyarakat dan bernegara itu bisa terwujud dengan adanya hukum (sistem) yang mengatur, bukan ruang kosong yang tak berpenghuni, dan bukan kehidupan orang-orang gila. Jadi ketika ada seseorang yang dianggap wali atau diwalikan tetapi telah kehilangan karakter ketakwaannya, maka saksikanlah bahwa dia adalah wali thaghut. Sedangkan sebuah perkataan yang telah populer dikalangan kaum muslim tradisionalis yang hobi mewali-walikan orang-orang yang punya keanehan, yaitu:

 لَا يَعْرِفُ الْوَلِيَّ إِلَّا الْوَلِيُّ .

“Tidak mengerti wali kecuali wali” Maka Imam Junaidi Al-Baghdadi, Imam Shufiyyah ASWAJA dan guru dari Syaikh Abbdul Qadir Jailani, terkait konotasi maqalah tersebut, beliau berkata:

 مَعْنَاهُ: وَاللهِ مَا عَرَفَ اللهَ إِلَّا اللهُ.{المجالس السنية، ص:10}.

“Maknanya; Demi Allah, tidak mengerti (hakekat) Allah kecuali Allah”. Allah swt juga dalam Al-Qur’an telah menjelaskan dengan firman-Nya:

 أَمِ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِهِ أَوْلِيَاءَ، فَاللهُ هُوُ الْوَلِيُّ وَهُوَ يُحْيِى الْمَوْتَى وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ .

“Atau patutkah mereka mengambil wali-wali selain Allah? Maka Allah, Dialah Wali (Pelindung) dan Dia menghidupkan orang- orang yang mati, dan Dia adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. QS asy-Syuro[42]: 9.

Jadi al-waliy pada perkataan di atas adalah Allah al-Waliy, bukan wali dari manusia. Menepis Syubhat Imam Ibnu Qayyim rh dalam kitab al-Ruh-nya juga berkata: “Maka ketika kamu melihat seorang laki-laki yang suka mendengarkan syetan, seruan syetan dan saudara-saudara syetan, dan dia juga mengajak kepada perkara yang disukai oleh syetan seperti syirik, bid’ah dan munkar, maka ketahuilah bahwa dia itu termasuk wali syetan. Kemudian ketika lelaki itu masih menyulitkan kamu, maka singkaplah dia dengan tiga perkara berikut:

Pertama: Shalat, serta cinta dan bencinya kepada sunnah dan ahli sunnah.

Yakni, ketika ia menegakkan shalat, mencintai sunnah dan ahli sunnah, berarti ia wali Rohman. Dan apabila ia tidak menegakkan shalat, seperti tidak melaksanakannya dengan berjamaah dan khusuk, atau mengeluarkannya dari waktunya, atau meninggalkannya tanpa udzur yang dibenarkan oleh syara’; dan tidak mencintai sunnah dan ahlinya, tetapi ia membencinya, atau ia lebih menyukai bid’ah, khurofat, kejahiliyahan dan kesesatan, maka ia adalah wali syetan.

Kedua: Dakwahnya kepada Allah dan Rasul-Nya.

Yakni, apabila ia mengajak ibadah kepada Allah semata dan mengikuti Rasul-Nya, maka ia adalah wali Rohman. Dan apabila ia mengajak ibadah kepada selain Allah dan mengikuti selain Rasul-Nya, maka ia adalah wali syetan.

Ketiga: Memurnikan tauhid, mengikuti Rasulullah saw dan berhukum dengan sunnahnya. Yakni apabila ia memurnikan tauhid dari syirik, baik syirik jaliy maupun syirik khafiy, mengikuti Rasulullah saw dan berhukum dengan sunnahnya, maka ia adalah wali Rohman. Dan apabila ia berbuat syirik, tidak mengikuti Rasulullah saw dan tidak berhukum dengan sunnahnya, maka ia adalah wali syetan.

Maka timbanglah ia dengan tiga perkara diatas, dan jangan menimbangnya dengan kondisi (yang aneh-aneh), mukasyafah dan perkara yang keluar dari kebiasaan, meskipun ia bisa berjalan diatas air dan terbang di udara”. Dan dalam hal ini, Ibnu al-Juwzy al-Baghdady dalam kitab Talbiysul Ibliys berkata: “Laiyts bin Saed berkata:

 لَوْ رَأَيْتُ صَاحِبَ بِدْعَةٍ يَمْشِي عَلَى الْمَاءِ مَا قَبِلْتُهُ .

“Seandainya aku melihat pemilik bid’ah berjalan diatas air, maka aku tidak menerimanya”. Lalu Imam Syafi’iy rh berkata:

 إِنَّ اللَّيْثَ بْنَ سَعْدٍ مَا قَصَّرَ، لَوْ رَأَيْتُهُ يَمْشِي عَلَى الْمَاءِ وَطَارَ فِي الْهَوَى مَا قَبِلْتُهُ .

“Sesungguhnya Laiyts bin Saed itu tidak meremehkan. Seandainya aku melihat pemilik bid’ah berjalan diatas air dan terbang di udara, maka aku tidak menerimanya”.

Wali-wali Allah adalah Pembela dan Penegak Agama Allah swt. Diatas telah dijelaskan bahwa wali Allah adalah orang yang beriman yang selalu bertakwa, sedangkan takwa -seperti diatas- adalah menahan diri (meninggalkan) perkara syahwat, syubhat dan haram, atau secara umum takwa adalah melaksanakan perintah Allah swt dan menjauhi larangan-Nya. Dengan demikian, wali-wali Allah adalah ulama akhirat, karena takwa itu tidak akan bisa sempurna tanpa ilmu yang memadai, yakni ilmu yang mencakup seluruh perintah dan larangan Allah swt yang harus dikerjakan dan ditinggalkan. Dalam hal ini syaikh Abdul Wahab Sya’roni rh dalam kitab al-Mizan al-Kubro-nya berkata:

 وَإِنْ لَمْ تَكُنِ الْأَئِمَّةُ الْمُجْتَهِدُوْنَ أَوْلِيَاءَ فَمَا عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ وَلِيٌّ أَبَدًا .

“Seandainya para imam mujtahid itu bukan wali-wali Allah, maka di atas bumi selamanya tidak akan ada wali Allah”.

Akhir kata: Dengan perkataan ini menjadi jelas bahwa yang layak disebut sebagai wali Allah adalah ulama akhirat, bukan ulama dunia. Sedangkan pada topik sebelumnya, yaitu konotasi Aswaja (13), telah saya jelaskan bahwa ulama yang Aswaja adalah ulama akhirat, bukan ulama dunia. Sedang ulama akhirat adalah wali-wali Allah. Berarti wali yang Aswaja adalah wali Allah, bukan wali thaghut. Ketika telah diketahui bahwa wali-wali Allah adalah ulama akhirat, sedang ulama akhirat adalah para pembela dan penegak agama Allah, maka kesimpulannya wali Allah adalah pembela dan penegak agama Allah swt. Dan sosok-sosok para wali Allah yang pasti diterima oleh mayoritas penduduk Indonesia adalah sosok Wali Songo, bukan sosok Syaikh Siti Jenar. Sedang Wali Songo adalah para pebela dan penegak agama Allah swt; Mereka sampai akhir hayatnya tidak pernah berhenti dari aktifitas dakwah menuju penerapan syariat (agama) Islam dalam kehidupan, bermasyarakat dan bernegara. Dan berdirinya banyak kesultanan Islam (sebagai institusi Islam) di Nusantara adalah bukti sejarah yang tidak terbantahkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: