MISS WORLD : MISSING WORLD

Tolak Miss World

khabarislam.wordpress.com. Indonesia sebagai negeri yang berbudaya, menjunjung tinggi moral dan beragama sudah kehilangan identitasnya. Negara dengan mayoritas muslim terbesar, tetapi juga negara yang selalu dijadikan objek pengeruk keuntungan oleh pihak-pihak tertentu, sebut saja konser-konser artis idola, klub sepak bola dan sebagainya kini harus rela sekali lagi dimanfaatkan untuk keuntungan  dan kepentingan pribadi mereka. Dengan alasan objek wisata, negara kita harus rela menyerahkan tempatnya sebagai tuan rumah Miss World tanpa memikirkan efek yang akan ditimbulkan. Norma-norma yang dimiliki bangsa timur kini diabaikan, semua budaya, trend yang jelas-jelas melanggar adat ketimuran ini diterima begitu saja tanpa filter, mengingat bangsa ini adalah bangsa “pengikut”.

Kebudayaan barat yang sudah menjadi gaya hidup bagi orang-orang timur akan semakin dijejalkan ke dalam otak-otak masyarakat melalui kontes yang diadakan di Indonesia dalam waktu dekat ini. Kontes yang awal mulanya diprakarsai sebagai ajang promosi produk bikini kini akan diselenggarakan di Negara kita tercinta.

Kontes kecantikan yang bertajuk “Miss World” menjadi ajang komersialisme dengan menggunakan objek wanita sebagai alat pemancingnya. Kecantikan fisik dan keberanian untuk pamerkan aurat menjadi sebuah modal dan keharusan bagi para kontestan untuk menjalani kontes ini.  Fungsi wanita yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW, sudah tak lagi menjadi acuan untuk membuat kaum wanita layak dihormati. Kemolekan tubuh mereka dinikmati oleh lawan jenis sebagai sesuatu yang sudah selayaknya dilakukan.

Padahal, boleh jadi wanita-wanita yang cantik itu tidak memiliki kepribadian yang cukup untuk dijadikan contoh oleh wanita lainnya selain hanya memamerkan kemolekan fisik. Terbukti, pemenang-pemenang “Miss World” yang sempat memahkotai gelar ratu tercantik itu harus rela berurusan dengan skandal-skandal yang sangat tidak terpuji. Banyak diantaranya yang harus mencopot gelar “Miss World” itu karena ulah yang mereka perbuat.

Miss Amerika Serikat, mencopot jabatannya karena terlalu berkencan dengan banyak lelaki pada tahun 1973, selain itu ia juga sempat berfoto telanjang. Miss Inggris Helen Elizabeth Morgan terpaksa menanggalkan gelar Miss World yang diraihnya karena empat hari setelah kemenangan itu ia diketahui seorang ibu tanpa menikah. Masih banyak skandal lain yang terjadi pada pemenang-pemenang Ratu kecantikan.

Perilaku itu sudah cukup memberikan kita penilaian bahwa tidak semua yang cantik itu hebat, bahwa perilaku seseorang yang terkenal karena pamer aurat sudah jelas tidak patut dicontoh. Moral yang dimiliki oleh bangsa ketimuran, agama Islam yang menjadi agama mayoritas di Indonesia,

Bahkan tahun 2011, kaum feminism melakukan demo untuk penolakan kontes Miss World. Sementara kita, sebagai negara mayoritas Islam terbesar selayaknya tidak terbersit sedikit pun niat untuk menyelenggarakan kontes yang bahkan kaum feminism pun menolaknya. Di Inggris pun sempat tidak menayangkan kontes ini karena dianggap tidak menggambarkan sosok perempuan khas Inggris. Soeharto, Presiden Republik Indonesia ke-2 saja tidak izinkan wanita Indonesia untuk menjajakan tubuhnya yang jelas bukan budaya asli Indonesia, namun sekarang malah diagungkan.

Akankah kita mengikuti mereka? Membiarkan mereka melakukan hal yang disukai mereka dan membiarkan para remaja bangsa ini menikmati dan meniru budaya dan perilaku yang tidak terpuji itu. Mempengaruhi para remaja untuk mengagungkan kecantikan wanita di atas segalanya. Moral bangsa diabaikan, norma agama dan budaya hanya dijadikan pajangan, undang-undang pornografi yang sempat heboh itu kini hanya sebatas tulisan saja. Semuanya tak dihiraukan demi sebuah keuntungan dari manusia-manusia kapitalis yang materalis.

Definisi demokrasi pun selalu kabur di setiap tempat yang menjalankannya, ketika rakyat menginginkan sesuatu yang jelas untuk kemaslahatan bangsanya, semua seolah masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan. Suara rakyat yang katanya sangat diagungkan hanya sekedar omongan saja, suara rakyat berlaku hanya untuk melubangi gambar tokoh yang akan jadi wakil rakyat, namun hampir tidak berlaku ketika suara rakyat berseru menyampaikan keinginan mereka. Karena suara rakyat yang didengar adalah suara segelintir orang yang memiliki jabatan dan kekuasaan saja.

Semoga tulisan ini dibaca oleh pihak yang bertanggung jawab dalam kontes Ratu Kecantikan atau yang disebut Miss World dan semoga jadi bahan pertimbangan bagi semuanya bahwa cantik itu bukan untuk dipertontonkan, bahwa moral dan keimanan seorang wanita lebih diutamakan dari sekedar keindahan fisik belaka. Bahwa cantik itu bukan untuk diagungkan dengan dipertontonkan, namun untuk disyukuri dengan keimanan dan ketaatan kepada Sang Pencipta.

Indonesia adalah Indonesia, negeri dengan bangsa yang menjungjung tinggi agama, moral dan budayanya. Jangan sampai kita seperti kacang yang lupa pada kulitnya. Sehingga membuat kita menghilangkan kepribadian negeri yang sudah menjadi identitas bangsa, hanya demi sebuah popularitas semata.

Oleh: Oleh : Rizki Fazriani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: