Habib Muhsin Al Attas (Ketua Umum FPI): Ahok Misionaris Sekaligus Mafia!

khabarislam.wordpress.com. Selain karena Ahok adalah non Muslim —yang jelas haram memimpin kota yang mayoritas berpenduduk Muslim ini— Front Pembela Islam (FPI) pun memiliki catatan ‘dosa-dosa Ahok’ lainnya yang semakin memberatkan ketidakpantasannya menjadi seorang pemimpin. Apa saja itu? Sebagiannya disinggung dalam wawancara wartawan mediaumat.com Joko Prasetyo dengan Ketua Umum FPI Habib Muhsin Al Attas. Berikut petikannya.

Mengapa FPI menolak Ahok jadi gubernur?

Dalam agama Islam haram hukumnya untuk menjadikan orang non Muslim sebagai pemimpinnya. Itu harga mati! Dan itu hak kami sebagai orang Islam bangsa Indonesia. Dan itu dilindungi oleh UU.

Maka bukan hanya FPI Jakarta, semua komponen umat Islam juga menolak, begitu juga para warga Betawi dan alim ulama DKI menolak. Karena di samping masalah agama, Ahok juga mempunyai satu prilaku yang tidak sesuai dan tidak pantas menjadi seorang pemimpin.

Yaitu…

Arogansi dan kata-kata kotornya. Omongannya itu omongan yang kasar. Kadang-kadang keluar kata-kata binatang kepada pegawai bawahannya.

Habib tahu dari mana?

Itu keluhan-keluhan dari pegawai-pegawai PNS. Mereka mengeluh sering keluar kata “anjing”, “goblok” dari mulut Ahok ketika marah kepada mereka. Ini tidak pantas dimiliki oleh seorang kepala pemerintahan.

Di samping itu, Ahok juga seorang misionaris?

Ya, Ahok seorang misionaris, sekaligus mafia!

Mafia bagaimana?

Mafia naga! Ahok adalah perpanjangan tangan dari mafia naga. Mafia naga di Indonesia, di Jakarta khususnya, adalah mafia-mafia yang selama ini meresahkan dan merampas tanah-tanah rakyat. Dengan cara paksa, dengan berkolaborasi dengan oknum-oknum aparat negara, untuk apa? Untuk merebut tanah-tanah rakyat dengan paksa.

Contoh kasus?

Banyak sekali. Taman BMW, yang sekarang akan dijadikan stadion internasional. Dalam kasus ini, Ahok dengan arogansinya, dengan begitu semangatnya mempertahankan tanah itu. Padahal tanah itu adalah milik masyarakat. Dan dia menyuruh Walikota Jakarta Utara untuk memproses tanah itu menjadi sertifikat dalam tiga hari. Mana ada, bim salabim tiga hari jadi sertifikat! Itu pelanggaran hukum yang luar biasa.

Sertifikat untuk Agung Podomoro?

Bukan, untuk dijadikan stadion. Tapi itu memang ada kaitan  yang besar dengan Agung Podomoro.

Bagaimana Habib bisa tahu itu tanah milik rakyat, bukan milik Pemda DKI?

Karena satu keluarga ahli warisnya datang ke sini (FPI, red). Sekarang orangnya ada di suatu tempat, sedang ngumpet karena dikejar-kejar polisi.

Mengapa dikejar-kejar polisi?

Karena polisi disuruh Agung Podomoro. Agar ahli waris tanah tersebut bungkam dan mengalah. Kalau tidak bungkam atau tidak mengalah akan dibunuh atau dimasukan penjara. Dan pernah dimasukan penjara! Gara-gara dia melawan aparat, melawan pemda DKI yang hakikatnya melawan Agung Podomoro. Ya akhirnya itu yang terjadi.

Kasus ini sejak kapan terjadi?

Sudah bertahun-tahun, sebenarnya ini kasus lama. Namun sekarang yang paling semangat memperjuangkan tanah BMW adalah Ahok. Berarti Ahok, dulunya salah satu konsultan Agung Podomoro dan sekarang menjadi pejabat.

Dulu kita dengar, begitu berbahaya kalau seandainya penjahat atau mafia telah berkolaborasi dengan aparat pemerintah atau penguasa. Nah sekarang, mafianya sudah menjadi penguasa! Itu bahaya luar biasa.

Bukti dia misionaris?

Bukti terbaru, dengan arogannya Ahok membikin peraturan yang merugikan umat Islam. Ahok yang menjadi Plt Gubernur DKI menandatangani Instruksi Gubernur 67 Tahun 2014 yang melarang qurban di sekolah-sekolah dan masjid-masjid. Pemotongan hanya dibolehkan di rumah pemotongan hewan katanya.

Alasan Ahok apa?

Ini demi kebersihan. Berarti dia mengatakan bahwa salah satu simbol Islam, yaitu qurban, merupakan kejorokan, jelas ini penghinaan kepada Islam! Dulu dia juga mengusulkan di KTP tidak ada kolom agamanya, dengan alasan di Malaysia juga tidak ada kolom agama padahal ada, ini sudah kebohongan publik namanya.

Dan sudah ada bukti juga sudah ada beberapa masjid yang dibongkar Ahok.

Ketika Ahok masih satu paket dengan Jokowi kan…

Iya, itu membongkar Masjid Taman Ismail Marzuki. Katanya mau direlokasi, tapi itu sebenarnya taktik belaka, karena sampai sekarang belum ada tanda-tanda relokasi itu. Takbir keliling juga dilarang Ahok. Ada himbauan larangannya. Padahal ketika tahun baru, Ahok dan Jokowi merayakan tahun baru, jalan-jalan begitu bebas dibuka sampai menutup jalan. Tapi tablig akbar tidak boleh lagi di jalan, karena dianggap mengganggu jalan oleh Ahok. Tapi kalau tahun baru, ternyata boleh. Ada apa ini?

Bimas Islam DKI juga dikurangi perannya. Madrasah-madrasah yang tadinya mendapat intensif dari dinas pendidikan, kini sudah tidak ada lagi. Guru-guru agama tadinya mendapat hadiah sekarang sudah tidak ada lagi, dihapus oleh Ahok.

Ini berarti sudah sentimen agama. Ini semua adalah prilaku Ahok yang bertentangan dengan konstisusi karena sudah menyinggung masalah SARA (suku, agama, ras dan antar golongan). Kalau dulu dia mengatakan jangan ungkit masalah SARA, ternyata dia yang mengusik masalah SARA.

Tapi Ahok tidak mau menanggapi FPI dengan alasan FPI organisasi ilegal?

FPI organisasi yang anarkis dan ilegal di negeri ini kata Ahok.

Padahal?

Padahal kita punya SKT, surat keterangan terdaftar. Berarti legal dong…

Kalau tuduhan FPI anarkis itu bagaimana?

Setelah didemo FPI dua kali, Ahok itu nantang-nantang, dia katakan akan melawan FPI, siap menghadapi FPI segala macam. Makanya pada demo yang ketiga, dia buktikan.

Maksudnya?

Kejadian yang tanggal 3 Oktober itu sebenarnya sudah merupakan settingan atau skenario Ahok. Karena kita ini aksi menolak Ahok, dia alihkan isunya menjadi benturan FPI dengan polisi.

Skenarionya bagaimana?

Sesuai surat pemberitahuan kepada Polda, FPI mau aksi tolak Ahok di depan Balai Kota. Tetapi mengapa polisi memberhentikan konvoi FPI dari Petamburan di depan Gedung DPRD bukan di depan Balai Kota? Massa pun dengan tertib berdemo di depan DPRD, tetapi 20 menit kemudian polisi melakukan provokasi dengan membagi-bagikan tameng dan rotan kepada polisi yang berjaga-jaga di belakang gerbang gedung DPRD.

Massa tetap tenang, 30 menit kemudian bergerak meninggalkan gedung DPRD karena tujuannya memang ke Balai Kota. Tanpa disangka  polisi membuka gerbang gedung DPRD lalu memancing perhatian pendemo dengan meletuskan senjata dari dalam gedung DPRD. Hal itu memprovokasi massa untuk masuk ke dalam areal gedung hingga terjadilah insiden antara FPI dan polisi. Peserta aksi mundur ke arah pulang ke arah Balai Kota tapi sudah dihadang polisi dan terjadi pula insiden di depan Balai Kota.

Dengan begitu brutal, polisi juga merusak dan menghancurkan motor dan mobil bahkan tidak sedikit laskar yang ditabrak, dilindas dan dianiaya polisi. Delapan laskar FPI luka berat dan puluhan luka ringan. Dua puluh lainnya ditangkap lalu disiksa di dalam mobil polisi dengan cara dilempari gas air mata ke dalam mobil dengan pintu ditutup sehingga mereka sesak nafas dan mata yang begitu perih.

Itu baru jadi Wagub, kalau sudah jadi Gubernur?

Akan lebih dahsyat lagi kedzalimannnya. Itu sudah pasti! Ini luar biasa merugikannya dan harus dicegah. Masyarakat harus turun mencegah Ahok menjadi gubernur DKI!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: