Larang Hizbut Tahrir Berbicara di Kampus, Cermin Kegagalan Intelektual Kapitalisme

cancel-300x166khabarislam.wordpress.com. The Australian National University (ANU) membatalkan forum mahasiswa pada hari senin malam (20/10). Forum berjudul Rasionality and Terror itu dibatalkan lantaran ANU khawatir jika forum mengenai masalah terorisme itu akan berubah menjadi “diskusi politik” tentang kultus terhadap negara Islam.

Sebagaimana yang diberitakan oleh dailytelegraph.com.au, seorang juru bicara ANU memberikan konfirmasi bahwa pihak akademikus membatalkan forum tersebut karena seorang perwakilan dari Hizbut Tahrir diundang sebagai pembicara tanpa sepengetahuan dari universitas.

ANU mengatakan bahwa hingga minggu lalu, para mahasiswa tidak memberitahu pihak akademikus jika mereka mengundang Wassim Doureihi dari Hizbut Tahrir sebagai pembicara. Ada kekhawatiran jika acara yang “membakar seorang Muslim” itu akan memberikan Hizbut Tahrir ruang untuk menyampaikan pandangan mengenai “kaum ekstrimis”.

“Ditambahkannya Wassim Doureihi dalam diskusi tersebut, mengubah sifat acara itu dari diskusi akademis terbuka menjadi diskusi politik tentang tindakan ISIS,” kata jurubicara ANU, “Jelas bahwa pandangan Wassim Doureihi tidak memenuhi standar yang ditetapkan oleh kampus.”

Anggota Maktab I’lami DPP Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Farid Wadjdi menilai bahwa apa yang dilakukan oleh ANU ini mencerminkan kegagalan intelektual kapitalisme, yang nyatanya justru terjadi di kampus besar Australia.

“Kalau memang tidak setuju, kenapa tidak berdialog secara terbuka?” Ungkap Farid (23/10).

ANU adalah universitas besar ketiga yang menolak Hizbut Tahrir sebagai kelompok yang mendukung kekhilafahan dan hukum syariah. Tidak hanya di ANU, pada bulan Juni lalu Juru Bicara Hizbut Tahrir Australia Uthman Badar juga dihentikan untuk berbicara di Sydney Opera House. Tidak hanya itu, bulan Agustus lalu Badar juga dilarang berbicara di University of Sydney, dalam acara peringatan ke-11 serangan teror September.

Farid juga melanjutkan, pelarangan-pelarangan yang terjadi itu menunjukkan bahwa kebebasan berpendapat dalam demokrasi adalah omong kosong.

“Ketika gagal membendung keunggulan pemikiran Islam dan tidak mampu menutupi kebobrokan kapitalisme, akhirnya yang digunakan adalah kekuasaan dengan alasan yang dibuat-buat seperti menyebarkan kebencian atau mendukung kekerasan.” Pungkasnya. (mediaumat.com, 23/10/2014)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: