Kebodohan Para penyembah Selain Allah

Photo: KEBODOHAN PARA PENYEMBAH SELAIN ALLAH

#nafsiyah #IndonesiaMilikAllah

Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I.

***
Kemudian mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apa pun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) sesuatu kemanfaatan pun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan (TQS al-Furqan [25]: 3)

***

Manusia yang menyembah dan menjadikan tuhan selain Allah SWT sesungguhnya sangat bodoh. Betapa tidak. Semua selain Allah SWT adalah makhluk yang diciptakan. Semuanya lemah, dan tak kuasa menghidupkan atau mematikan. Juga tak mampu menghidupkan manusia setelah mati untuk diberikan balasan.    Ayat ini adalah di antara ayat yang mengungkapkan keanehan pemikiran mereka beserta kebatilan keyakinan mereka.

Diciptakan dan Tidak Menciptakan

Allah SWT berfirman: Wa [i]ttakhadzû min dûnil-Lâh âlihat[an] (dan mereka mengambil tuhan-tuhan selain-Nya [untuk disembah]). Dalam ayat sebelumnya diterangkan tentang sifat-sifat Dzat yang menurunkan al-Furqan kepada hamba-Nya. Dialah pemilik kerajaan langit dan bumi, tidak memiliki anak, tidak memiliki sekutu dalam kerajaan-Nya, dan menciptakan segala sesuatu dengan ukuran paling sempurna.

Kemudian ayat ini memberitakan tentang keyakinan sebagian manusia dalam perkara ketuhanan. Menurut al-Khazin, mereka adalah para penyembah patung. Imam al-Qurthubi memahaminya lebih luas, mereka adalah kaum musyrik. Pendapat serupa juga dikemukakan oleh al-Alusi. Menurut al-Alusi, bahwa dhamîr wâwu al-jamâ’ah (kata ganti pihak ketiga jamak, mereka) pada kata ittakhadzû adalah kaum musyrik dapat dipahami dari ayat sebelumnya: Walam yakun lahu syarîk fî al-mulk (dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan [Nya]); dan firman-Nya: nadzîr[an] (pemberi peringatan keras).

Menurut al-Kirmani, sebagaimana dikutip al-Alusi dalam tafsirnya, mereka yang dimaksud adalah kaum kafir. Semua orang kafir itu termasuk dalam cakupan ayat ini. Dalilnya adalah firman Allah SWT: li al-‘âlamîna (kepada seluruh dunia).

Dalam ayat ini diberitakan bahwa mereka telah menjadikan âlihat[an] selain Allah SWT. Kata âlihah merupakan bentuk jamak dari kata ilâh (tuhan). Kata tersebut berasal dari kata alaha ya`lahu yang maknanya sama dengan kata ‘abada ya’budu (menyembah). Kata ilâh merupakan wazan fi’âl yang berarti ma`lûh (yang diibadahi, yang disembah), sebagaimana kata imâm yang berarti mu`tamm bih (yang diikuti). Demikian penjelasan Abu Bakar al-Razi dalam Mukhtâr al-Shihhah.

Dengan demikian, ayat ini memberitakan tentang akidah kaum musyrik yang menjadikan banyak tuhan sesembahan. Akidah tersebut jelas batil dan sesat. Sebab, tuhan yang benar untuk disembah pasti hanya satu. Dialah yang menciptakan dan mengatur alam semesta. Akal sehat tidak akan menerima keyakinan bahwa ada Tuhan lebih dari satu yang menciptakan dan mengatur alasm semesta. Sebab, jika itu terjadi, dunia akan rusak sebagaimana ditegaskan Allah SWT dalam firman-Nya: Seandainya di langit dan di bumi ada tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa (TQS al-Anbiya’ [21]: 22). Oleh karenanya, selain Dia bukan tuhan pencipta dan pengatur alam semesta, dan tentu tidak layak untuk disembah dan dijadikan sebagai tuhan.

Kemudian Allah SWT menyifati sesembahan mereka dengan firman-Nya: lâ yakhluqûna syay`[an] (yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apa pun). Patung-patung yang mereka sembah itu jelas tidak bisa menciptakan apa pun. Demikian pula sesembahan lainnya, seperti api, matahari, bintang, sapi, jin, dan manusia.

Bukan hanya tidak bisa menciptakan, bahkan sesembahan mereka itu juga makhluk ciptaan-Nya. Allah SWT berfirman: wa hum yukhlaqûna (bahkan mereka sendiri diciptakan). Semua benda di dunia adalah ciptaan-Nya. Ini telah ditegaskan dalam ayat sebelumnya bahwa Allah SWT khalaqa kulla syay`[in], menciptakan segala sesuatu.

Tidak Berdaya

Kebatilan akidah mereka semakin jelas diungkap dalam firman Allah SWT berikutnya: Walâ yamlikûna li anfusihim dharr[an] walâ naf’[an] (dan tidak kuasa untuk [menolak] sesuatu kemudaratan dari dirinya dan tidak [pula untuk mengambil] sesuatu kemanfaatan pun). Menurut al-Thabari, ini berarti mereka tidak bisa menolak kemudaratan dari orang yang menginginkan kemudaratan bagi mereka.   sesembahan itu tidak mampu menarik manfaat untuk diri mereka sendiri.

Kata li anfusihim (bagi diri mereka) menunjukkan puncak kelemahan sesembahan itu. Sebab mereka tidak mampu melakukannya dalam dirinya. Tentulah mereka lebih tidak mampu mencegah itu terjadi pada orang lain. Demikian penjelasan al-Alusi dalam tafsirnya.

Dalam ayat ini, penyebutan mudharat lebih didahulukan daripada manfaat. Menurut al-Syaukani, karena menolak mudharat lebih penting daripada menolak manfaat.

Bahwa selain Allah SWT tidak memiliki kekuatan untuk melindungi diri mereka dari mudarat dan tidak pula bisa mendatangkan manfaat juga disebutkan dalam beberapa ayat lainnya, seperti dalam QS al-A’raf [7]: 188.

Tentang ayat ini, Ibnu Katsir berkata, “Allah SWT memberitakan tentang kebodohan kaum Musyrik dalam menjadikan tuhan-tuhan selain Allah SWT, pencipta segala sesuatu, pemilik kendali segala urusan, segala yang dikehendaki-Nya menjadi ada, dan  segala yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan ada. Akan tetapi mereka justru menyembah patung-patung yang tidak mampu menciptakan sayap nyamuk. Lebih dari itu, mereka adalah makhluk yang diciptakan-Nya. Mereka juga tidak memiliki kekuatan melindungi diri mereka dari mudarat dan menarik manfaat. Lalu bagaimana dia memiliki kekuatan untuk melindungi para penyembahnya?”

Tidak Kuasa Menghidupkan dan Mematikan

Kemudian Allah SWT berfirman: walâ yamlikûna mawt[an] walâ hayât[an] (dan [juga] tidak kuasa mematikan dan dan menghidupkan). Sesembahan Allah SWT itu juga tidak bisa menghidupkan dan mematikan. Bahkan mereka, jika makhluk hidup, pasti akan dimatikan Allah SWT.

Disebutkan pula: walâ nusyûr[an] (dan tidak [pula] membangkitkan). Diterangkan al-Thabari, kata al-nusyûr merupakan bentuk mashdar dari kata nusyira al-mayyit nusyûr[an] (mayat itu benar-benar dihidupkan lagi), yakni dibangkitkan dan dihidupkan setelah kematian. Penjelasan yang sama juga dikemukakan al-Qurthubi. Menurutnya, al-nusyûr merupakan al-ihyâ` ba’da al-mawt (menghidupkan setelah kematian).

Menurut Fakhruddin al-Razi, disebutkannya al-nusyûr memberikan makna bahwa sesembahan itu harus mampu memberikan pahala kepada pelaku ketaatan dan dosa kepada pelaku kemaksiatan. Maka bagi siapa pun yang tidak memiliki kemampuan tersebut, maka tidak layak untuk dijadikan sebagai tuhan.

Dikatakan juga oleh Ibnu Katsir, mereka tidak memiliki sedikit pun tentang itu, namun semua itu dikembaikan kepada Allah SWT, yang menghidupkan dan mematikan, yang mengembalikan makhluk pada hari Kiamat, yang dahulu maupun yang akhir. Ini ditegaskan dalam banyak ayat, seperti QS Luqman [31]: 28, al-Qamar [54]: 50, al-Nazi’at [79]: 13-14, al-Shaffat [37]: 19, Yasin [36]: 53, dan lain-lain.

Demikianlah. Betapa bodohnya orang-orang yang menyembah dan menjadikan tuhan selain Allah SWT. Padahal, mereka telah diberi akal untuk berpikir.

Ikhtisar:

Semua sesembahan selain Allah SWT adalah makhluk yang lemah, tidak menghidupkan dan mematikan, serta tidak bisa menghidupkan manusia setelah kematiannya
Hanya orang-orang bodoh yang mau menyembah selain Allah SWT. [mediaumat.com]

***
Jika Sahabat Muslimah ingin bergabung bersama MUSLIMAH HIZBUT TAHRIR INDONESIA dan bersama kita mendakwahkan Islam, bisa melayangkan pesan berupa nama asli, alamat lengkap, dan no. telp/hp yang bisa dihubungi pada inbox fanpage Muslimah4Khilafah serta tulis juga motivasi Sahabat ingin memperjuangkan Syariah dan Khilafah.

---------
Dukung terus Opini Syariah dan Khilafah dengan klik LIKE, KOMENTAR, TAG dan BERBAGILAH STATUS ini. Semoga menjadi amal sholih buat kita bersama.

**********************************************
Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia
www.hizbut-tahrir.or.id
Facebook : www.facebook.com/muslimah4khilafah
Twitter : www.twitter.com/women4khilafah
Youtube : www.youtube.com/user/MUSLIMAHMEDIACENTER
Radio CWS : www.muslimah-htichannel.blogspot.com/
÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷khabarislam.wordpress.com. Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I.

***
Kemudian mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apa pun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) sesuatu kemanfaatan pun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan (TQS al-Furqan [25]: 3)

***

Manusia yang menyembah dan menjadikan tuhan selain Allah SWT sesungguhnya sangat bodoh. Betapa tidak. Semua selain Allah SWT adalah makhluk yang diciptakan. Semuanya lemah, dan tak kuasa menghidupkan atau mematikan. Juga tak mampu menghidupkan manusia setelah mati untuk diberikan balasan. Ayat ini adalah di antara ayat yang mengungkapkan keanehan pemikiran mereka beserta kebatilan keyakinan mereka.

Diciptakan dan Tidak Menciptakan

Allah SWT berfirman: Wa [i]ttakhadzû min dûnil-Lâh âlihat[an] (dan mereka mengambil tuhan-tuhan selain-Nya [untuk disembah]). Dalam ayat sebelumnya diterangkan tentang sifat-sifat Dzat yang menurunkan al-Furqan kepada hamba-Nya. Dialah pemilik kerajaan langit dan bumi, tidak memiliki anak, tidak memiliki sekutu dalam kerajaan-Nya, dan menciptakan segala sesuatu dengan ukuran paling sempurna.

Kemudian ayat ini memberitakan tentang keyakinan sebagian manusia dalam perkara ketuhanan. Menurut al-Khazin, mereka adalah para penyembah patung. Imam al-Qurthubi memahaminya lebih luas, mereka adalah kaum musyrik. Pendapat serupa juga dikemukakan oleh al-Alusi. Menurut al-Alusi, bahwa dhamîr wâwu al-jamâ’ah (kata ganti pihak ketiga jamak, mereka) pada kata ittakhadzû adalah kaum musyrik dapat dipahami dari ayat sebelumnya: Walam yakun lahu syarîk fî al-mulk (dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan [Nya]); dan firman-Nya: nadzîr[an] (pemberi peringatan keras).

Menurut al-Kirmani, sebagaimana dikutip al-Alusi dalam tafsirnya, mereka yang dimaksud adalah kaum kafir. Semua orang kafir itu termasuk dalam cakupan ayat ini. Dalilnya adalah firman Allah SWT: li al-‘âlamîna (kepada seluruh dunia).

Dalam ayat ini diberitakan bahwa mereka telah menjadikan âlihat[an] selain Allah SWT. Kata âlihah merupakan bentuk jamak dari kata ilâh (tuhan). Kata tersebut berasal dari kata alaha ya`lahu yang maknanya sama dengan kata ‘abada ya’budu (menyembah). Kata ilâh merupakan wazan fi’âl yang berarti ma`lûh (yang diibadahi, yang disembah), sebagaimana kata imâm yang berarti mu`tamm bih (yang diikuti). Demikian penjelasan Abu Bakar al-Razi dalam Mukhtâr al-Shihhah.

Dengan demikian, ayat ini memberitakan tentang akidah kaum musyrik yang menjadikan banyak tuhan sesembahan. Akidah tersebut jelas batil dan sesat. Sebab, tuhan yang benar untuk disembah pasti hanya satu. Dialah yang menciptakan dan mengatur alam semesta. Akal sehat tidak akan menerima keyakinan bahwa ada Tuhan lebih dari satu yang menciptakan dan mengatur alasm semesta. Sebab, jika itu terjadi, dunia akan rusak sebagaimana ditegaskan Allah SWT dalam firman-Nya: Seandainya di langit dan di bumi ada tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa (TQS al-Anbiya’ [21]: 22). Oleh karenanya, selain Dia bukan tuhan pencipta dan pengatur alam semesta, dan tentu tidak layak untuk disembah dan dijadikan sebagai tuhan.

Kemudian Allah SWT menyifati sesembahan mereka dengan firman-Nya: lâ yakhluqûna syay`[an] (yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apa pun). Patung-patung yang mereka sembah itu jelas tidak bisa menciptakan apa pun. Demikian pula sesembahan lainnya, seperti api, matahari, bintang, sapi, jin, dan manusia.

Bukan hanya tidak bisa menciptakan, bahkan sesembahan mereka itu juga makhluk ciptaan-Nya. Allah SWT berfirman: wa hum yukhlaqûna (bahkan mereka sendiri diciptakan). Semua benda di dunia adalah ciptaan-Nya. Ini telah ditegaskan dalam ayat sebelumnya bahwa Allah SWT khalaqa kulla syay`[in], menciptakan segala sesuatu.

Tidak Berdaya

Kebatilan akidah mereka semakin jelas diungkap dalam firman Allah SWT berikutnya: Walâ yamlikûna li anfusihim dharr[an] walâ naf’[an] (dan tidak kuasa untuk [menolak] sesuatu kemudaratan dari dirinya dan tidak [pula untuk mengambil] sesuatu kemanfaatan pun). Menurut al-Thabari, ini berarti mereka tidak bisa menolak kemudaratan dari orang yang menginginkan kemudaratan bagi mereka. sesembahan itu tidak mampu menarik manfaat untuk diri mereka sendiri.

Kata li anfusihim (bagi diri mereka) menunjukkan puncak kelemahan sesembahan itu. Sebab mereka tidak mampu melakukannya dalam dirinya. Tentulah mereka lebih tidak mampu mencegah itu terjadi pada orang lain. Demikian penjelasan al-Alusi dalam tafsirnya.

Dalam ayat ini, penyebutan mudharat lebih didahulukan daripada manfaat. Menurut al-Syaukani, karena menolak mudharat lebih penting daripada menolak manfaat.

Bahwa selain Allah SWT tidak memiliki kekuatan untuk melindungi diri mereka dari mudarat dan tidak pula bisa mendatangkan manfaat juga disebutkan dalam beberapa ayat lainnya, seperti dalam QS al-A’raf [7]: 188.

Tentang ayat ini, Ibnu Katsir berkata, “Allah SWT memberitakan tentang kebodohan kaum Musyrik dalam menjadikan tuhan-tuhan selain Allah SWT, pencipta segala sesuatu, pemilik kendali segala urusan, segala yang dikehendaki-Nya menjadi ada, dan segala yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan ada. Akan tetapi mereka justru menyembah patung-patung yang tidak mampu menciptakan sayap nyamuk. Lebih dari itu, mereka adalah makhluk yang diciptakan-Nya. Mereka juga tidak memiliki kekuatan melindungi diri mereka dari mudarat dan menarik manfaat. Lalu bagaimana dia memiliki kekuatan untuk melindungi para penyembahnya?”

Tidak Kuasa Menghidupkan dan Mematikan

Kemudian Allah SWT berfirman: walâ yamlikûna mawt[an] walâ hayât[an] (dan [juga] tidak kuasa mematikan dan dan menghidupkan). Sesembahan Allah SWT itu juga tidak bisa menghidupkan dan mematikan. Bahkan mereka, jika makhluk hidup, pasti akan dimatikan Allah SWT.

Disebutkan pula: walâ nusyûr[an] (dan tidak [pula] membangkitkan). Diterangkan al-Thabari, kata al-nusyûr merupakan bentuk mashdar dari kata nusyira al-mayyit nusyûr[an] (mayat itu benar-benar dihidupkan lagi), yakni dibangkitkan dan dihidupkan setelah kematian. Penjelasan yang sama juga dikemukakan al-Qurthubi. Menurutnya, al-nusyûr merupakan al-ihyâ` ba’da al-mawt (menghidupkan setelah kematian).

Menurut Fakhruddin al-Razi, disebutkannya al-nusyûr memberikan makna bahwa sesembahan itu harus mampu memberikan pahala kepada pelaku ketaatan dan dosa kepada pelaku kemaksiatan. Maka bagi siapa pun yang tidak memiliki kemampuan tersebut, maka tidak layak untuk dijadikan sebagai tuhan.

Dikatakan juga oleh Ibnu Katsir, mereka tidak memiliki sedikit pun tentang itu, namun semua itu dikembaikan kepada Allah SWT, yang menghidupkan dan mematikan, yang mengembalikan makhluk pada hari Kiamat, yang dahulu maupun yang akhir. Ini ditegaskan dalam banyak ayat, seperti QS Luqman [31]: 28, al-Qamar [54]: 50, al-Nazi’at [79]: 13-14, al-Shaffat [37]: 19, Yasin [36]: 53, dan lain-lain.

Demikianlah. Betapa bodohnya orang-orang yang menyembah dan menjadikan tuhan selain Allah SWT. Padahal, mereka telah diberi akal untuk berpikir.

Ikhtisar:

Semua sesembahan selain Allah SWT adalah makhluk yang lemah, tidak menghidupkan dan mematikan, serta tidak bisa menghidupkan manusia setelah kematiannya
Hanya orang-orang bodoh yang mau menyembah selain Allah SWT. [mediaumat.com]

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: